Sang Cinta yang Tak Pernah Datang Terlambat

Adoration of The Shepherds by Pupil of Rembrant 1646

Saudara-saudari terkasih,

Ijinkan saya merenung bersama anda tentang awal dari sebuah kisah cinta teragung sepanjang sejarah manusia. Sebuah kisah cinta, yang diteruskan dari generasi nenek buyut kita, dan akan tetap terpelihara kenangan tentang cinta itu sampai generasi anak cucu kita. Inilah awal dari kebenaran tentang kisah cinta itu : bahwa begitu besar kasih Bapa kepada manusia, sehingga Ia rela mengutus Putra Tunggal-Nya menjadi manusia, untuk menyelamatkannya dan membawanya pulang ke rumah surgawi, ke dalam keluarga Tritunggal Mahakudus.

Pada renungan ini saya ingin mengajak anda semua untuk memusatkan perhatian kita kepada orang-orang sederhana yang hadir ketika Yesus lahir ke dunia. Merekalah individu yang memilih untuk menanggapi undangan malaikat, yang memutuskan untuk berjalan di jalan keselamatan. Oleh karena keberanian, kerendahan hati, kesiapan mereka untuk menerima kehendak Allah, mereka menjadi pribadi yang tidak terlupakan sepanjang sejarah keselamatan. Mereka menjadi yang pertama melihat Allah, yang berlari dalam cinta menuju Allah. Dulu, Musa hanya mampu melihat punggung Allah. Kini, Allah bukanlah gagasan yang abstrak dan jauh dari hidup manusia. Peristiwa Inkarnasi memampukan manusia untuk melihat wajah Allah, Immanuel, yang berarti Allah beserta kita. Mereka yang mendapat kesempatan pertama itu tidak lain adalah Ibu Maria, St. Yoseph dan para gembala. Mereka bukanlah sosok yang terlambat mencintai Sang Keindahan surgawi, yang selalu purba, selalu baru (St. Augustinus).  Mereka memiliki karakteristik mendasar, keutamaan yang diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan dengan melihat Allah (Mat 5:8) yang datang dalam ketersembunyian.

Saya merasa tersentuh ketika penginjil Lukas berkata “Maria menyimpan semua itu di dalam hatinya dan merenungkannya”. Perkataan ini membangkitkan imajinasi saya terhadap Bunda Maria sebagai Ibu yang berkata-kata dalam diam. Inilah Bunda yang menanyakan makna peristiwa hidupnya dalam keheningan. Inilah wanita yang berseru dalam kesunyian. Inilah Ibu yang menderita dalam diam di kaki salib Putra-Nya. Namun, apa maksudnya menyimpan dan merenungkan segalanya itu? Continue reading