Akulah Keselamatanmu

Kristus Sang Gembala

“Engkau tidak pernah menjauh dari kami, namun kami kesulitan kembali pada-Mu.” (St. Augustinus)

Setiap manusia adalah domba yang tersesat. Ia pergi meninggalkan gembalanya, Tuhannya yang baik, mencari sesuatu di dalam ciptaan duniawi yang dapat memuaskan kerinduan di dalam dirinya, sesuatu yang hanya dapat dipenuhi oleh Allah sendiri. Namun kepergiannya ini membuatnya tidak lagi mengenal jalan untuk kembali.

“Siapakah aku tanpa Engkau, selain penuntun bagi kejatuhanku?” (St. Augustinus)

Jarak yang semakin lebar antara manusia dan Allah, dapat membawa manusia dalam kondisi dimana Ia kehilangan Allah untuk selamanya. Manusia, yang tak dapat menghancurkan keterbatasannya, tidak akan pernah mampu menyelamatkan dirinya. Oleh karena itulah, sang Gembala pergi mencari mereka yang tersesat. Ia dengan rendah hati turun dari surga, menanggalkan kemuliaan surgawi, menjadi satu daging dengan manusia untuk menyelamatkannya. Ia siap menggendong kita di pundak-Nya, dan membawa kita kembali ke tujuan akhir kita, yakni kebahagiaan kekal.

“Deus caritas est – Allah adalah kasih”.

Kasih Allah memanggil kita, suara-Nya menembus ketulian kita, terang kasih-Nya menghancurkan kebutaan kita (St. Augustinus). Kasih Allah menuntut tanggapan kita : apakah kita berani membuka diri kita kepada-Nya? Apakah kita kita berani mengakui bahwa kita adalah makhluk yang bergantung pada Allah? Apakah kita mau menyambut Kristus sang Gembala baik, dan mengijinkan Ia membawa kita pulang bersama-Nya?

Dalam hati kita, marilah kita ucapkan perkataan indah yang diungkapkan St. Augustinus ini :

“Ya Tuhan Allahku, beritahu aku apa arti-Mu bagiku. Katakanlah pada jiwaku, Akulah keselamatanmu. Katakanlah sehingga aku dapat mendengarnya. Hatiku mendengarkan, Tuhan; bukalah telinga pendengaranku dan katakanlah pada jiwaku, Akulah keselamatanmu. Biarkan aku berlari menuju suara ini dan menangkap Engkau.”

Gambar : Christ as the Good Shepard, the mausoleum of Galla Placidia, C. 425-426, Mosaic

Bacaan hari Selasa, 10 Desember 2013

Yes 40 : 1-11

Mat 18 :12-14

Advertisements

Manusia adalah Pengemis dihadapan Allah

Bacaan Hari Rabu, 27 November 2013

Bacaan I – Dan. 5:1-6,13-14,16-17,23-28;

Bacaan Injil – Luk. 21:12-19

Bacaan hari ini menampilkan dua sisi pengalaman manusia yang saling bertolak belakang : Pada bacaan pertama, kita melihat bagaimana Raja Belsyazar dengan segala kekayaannya menyembah harta bendanya, bersenang-senang dan berpuas diri dengan harta duniawi, sehingga Allah memperingatkan mereka dengan sebuah tulisan di dinding Istana bahwa apa kepemilikan mereka akan berakhir, dan kisah ini berakhir dengan terbunuhnya Raja Belsyazar.

Bacaan kedua menguraikan tentang Kristus yang berbicara kepada dua belas rasul, bahwa mereka akan disiksa dan dipenjara (Luk 21:12), dikhianati oleh keluarga, saudara dan teman serta beberapa diantara mereka akan dihukum mati (16), kebencian terhadap mereka karena nama Yesus pun menjadi bagian dari hidup mereka (18). Namun toh mereka akan memperoleh hidupnya kembali.

Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan ini?

Sejak kejatuhan manusia pertama, kodrat manusia menjadi rapuh dan condong ke arah yang jahat. Hasrat manusia menjadi tidak teratur dan egois, membuatnya sulit untuk tunduk kepada akal budi, dan akal budi sulit untuk taat pada pengetahuan akan Allah. Continue reading