Heningnya Kehadiran Tuhan

Christ on The Lake of Gennezaret byEugene Delacroix

“Kita selalu menemukan bahwa mereka yang berjalan paling dekat bersama Kristus adalah mereka yang harus menanggung pencobaan terbesar” – St. Teresa dari Avilla

Apa yang terjadi ketika hidup manusia tampak tidak masuk akal? Apa yang kita lakukan bila rasa aman kita terancam, ketika hal-hal yang kita perjuangkan kelihatannya akan menemui kegagalan? Apa reaksi kita dalam menghadapi gelombang yang menerjang kita, dalam mengatasi angin badai yang menerpa kehidupan kita?

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang drama kehidupan kristiani : bahwa ada kalanya kita merasa takut dalam menghadapi cobaan yang mendekati hidup kita. Kita pun sama seperti para rasul, ketika kita berseru kepada Allah, tampaknya Tuhan hanya diam mendengarkan kita. Atau, jangan-jangan Tuhan tertidur saat kita memanggil-Nya.

Teriakan para rasul kepada Yesus merupakan jeritan yang mewakili suara mereka yang mengalami cobaan : “Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bila kami binasa?” Namun, terkadang kita tidak seperti para rasul, setelah berhasil membangunkan Yesus, Ia meredakan angin dan danau. Dalam kehidupan ini, Yesus tidak secara langsung membereskan segala hal yang memberatkan hati kita. Dalam momen-momen yang gelap ini, kita merasakan bahwa Tuhan tampaknya tidak hadir, dan kehendak-Nya terlihat bertentangan dengan kehendak kita.

Meskipun demikian, saya ingin mengulangi apa yang dikatakan Paus Benediktus XVI, bahwa meskipun kita merasakan diamnya Tuhan dalam dunia ini, kita tidak boleh tuli pada perkataan-Nya atau buta pada kehadiran-Nya. Pencobaan yang mendatangi kita, bisa jadi merupakan tanda bahwa Tuhan berada sangat dekat dengan kita, seperti yang dinyatakan St. Teresa Avilla. Atau pencobaan ini merupakan sarana bagi Tuhan untuk mendidik kita, untuk mengkoreksi kesalahan kita. Lalu muncul pertanyaan penting : Apa yang Tuhan kehendaki dari saya dalam situasi yang tidak mengenakkan ini?

St. Augustinus berkata bahwa kita tidak perlu pergi ke tempat yang tinggi dan sepi untuk mencari Allah, melainkan kita harus turun ke tempat yang rendah, ke ruang hati kita yang terdalam, karena hati yang sederhana merupakan tempat yang rendah dan disana lah Allah berdiam. Tuhan dekat dengan orang yang rendah hati, karenanya pencobaan yang kita alami dapat menjadi pengingat bagi kita untuk selalu merendah di hadapan-Nya, mengakui segala keterbatasan dan kesalahan kita, dan menyerahkan banyak hal ke dalam tangan Tuhan.

St. Ambrosius menegaskan bahwa Tuhan selalu dekat pada mereka yang meminta pertolongan-Nya dengan tulus, dengan iman yang benar, pengharapan yang pasti, dan kasih sempurna. Oleh karena itu, jangan sampai kecemasan melumpuhkan kita, melainkan kita harus terus bertekun dalam doadan teguh dalam pengharapan, sambil melakukan apa yang bisa kita lakukan.

St. Yohanes Krisostomus dalam homilinya menjelaskan bahwa Tuhan membiarkan para murid merasakan ketakutan, karena Ia hendak mendisiplinkan mereka. Tuhan menghendaki mereka (dan kita juga) untuk menjadi para pemenang, menjadi orang-orang yang mampu menanggung pencobaan dengan gagah berani dan mulia, dalam keyakinan yang kokoh bahwa Allah selalu hadir, sekalipun mereka tidak merasakannya.

Umat beriman mengarungi perjalanan kehidupan ini dalam bahtera Tuhan. Kita tidak pernah sendirian, bahkan ketika kita merasa terabaikan dan tidak didengarkan. Kita harus berpegang teguh pada sabda Tuhan sendiri : Aku menyertai kamu hingga akhir jaman. Perkataan ini bukanlah sekedar janji palsu, melainkan sebuah kepastian iman yang tidak dapat dihancurkan, karena Sang Kebenaran-lah yang mengatakannya.

Saya tutup renungan ini dengan kutipan dari Paus Emeritus Benediktus XVI

“Ketika sekolah kehidupan menjadi sulit dan tak tertahankan, ketika saya ingin menjerit seperti Ayub, seperti Pemazmur – maka saya bisa mengubah jeritan ini menjadi kata “Bapa” dan jeritan ini secara bertahap menjadi sebuah kata, sebuah pengingat untuk percaya, karena dari sudut pandang Bapa, jelas sekali bahwa kesusahan saya, ya, penderitaan saya, merupakan bagian dari kasih yang lebih besar, yang terhadapnya saya mengucap syukur”

Bacaan Pertama — 2 Sam 12 : 1-7a, 11-17

Bacaan Injil — Mark 4 : 35-41

Gambar : “Christ on the lake of Gennezaret”, Eugene Delacroix, 1854

Kami Tahu bahwa Kesaksiannya itu Benar

The Tears of St Peter by Georges de la Tour 1645

Dixit Iesus Petro: Sequere me. Conversus Petrus vidit illum discipulum, quem diligebat Iesus, sequentem, qui et recubuit in cena super pectus eius, … Hic est discipulus ille, qui testimonium perhibet de his, et scripsit hæc: et scimus, quia verum est testimonium eius.(Dari Injil Yohanes 21 : 19-20,24: Yesus berkata pada Petrus : ‘Ikutilah Aku’. Petrus berbalik, melihat murid yang mencintai Yesus mengikuti Dia, yang juga bersandar di dada-Nya pada perjamuan Terakhir…Inilah murid yang memberikan kesaksian tentang hal-hal ini, dan telah menuliskannya, dan kami tahu bahwa kesaksiannya itu benar.”)

Sekolah iman bukanlah gerakan baris berbaris penuh kemenangan melainkan perjalanan sehari-hari yang ditandai dengan penderitaan dan kasih, pencobaan dan kesetiaan. Petrus, yang menjanjikan kesetiaan absolut, menyadari kepahitan dan penghinaan karena penyangkalan : pria arogan ini belajar pelajaran kerendahan hati dengan harga yang mahal. Petrus juga, harus belajar bahwa ia lemah dan membutuhkan pengampunan.

Ketika sikapnya berubah dan ia menyadari kebenaran akan hatinya yang lemah sebagai seorang pendosa yang beriman, ia menangis dalam kelayakan akan pertobatan yang membebaskan. Setelah tangisan ini, ia akhirnya siap untuk misi yang disediakan baginya.

Pada suatu pagi di musim semi, misi ini akan dipercayakan padanya oleh Kristus yang bangkit. Pertemuan ini terjadi di tepi danau Tiberias. Yohanes Penginjil mencatat percakapan antara Yesus dan Petrus. Terdapat suatu permainan kata yang memiliki makna yang sangat penting.

Dalam bahasa Yunani, kata “fileo” berarti kasih [dalam konteks] persahabatan, lembut tetapi tidak menyeluruh; sedangkan kata “agapao” berarti kasih tanpa batas, total dan tak bersyarat. Yesus bertanya pada Petrus pertama kali : “Simon…apakah kau mengasihiku (agapas-me)” dengan kasih yang total dan tak bersyarat ini (Yoh 21:15)?

Sebelum peristiwa pengkhianatan, Sang Rasul pasti akan berkata :”Aku mengasihimu (agapo-se) tanpa syarat”. Sekarang ia telah mengenal kesedihan yang pahit akan ketidaksetiaan, drama akan kelemahannya sendiri, ia berkata dengan kerendahan hati :”Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihimu (filo-se), yaitu, “Aku mengasihi-Mu dengan kasih manusia yang berkekurangan”. Kristus mendesak : “Simon, apakah kamu mengasihi aku dengan kasih yang total, yang aku inginkan?” Dan Petrus mengulangi jawabannya yang menunjukkan kasihnya yang rendah hati :”Kyrie, filo-se”, “Tuhan, aku mengasihi-Mu sejauh aku mampu untuk mengasihi-Mu”. Ketiga kalinya Yesus hanya berkata pada Simon :”Fileis-me?”, “Apakah kamu mengasihiku?”

Simon memahami bahwa kasihnya yang miskin ini cukup bagi Yesus, hanya ini yang mampu Ia lakukan, namun ia bersedih hati ketika Tuhan berbicara kepadanya dalam cara ini. Ia karenanya menjawab :”Tuhan, Engkau mengetahui segalanya; Engkau tahu bahwa Aku mengasihi-Mu (filo-se)” Hal ini berarti bahwa Yesus menempatkan dirinya setingkat dengan Petrus, dan bukannya Petrus yang menyetarakan dirinya dengan Yesus! Konformitas ilahi inilah persisnya yang memberikan pengharapan kepada Sang Murid, yang mengalami rasa sakit karena ketidaksetiaan.

Dari sini lahirlah kepercayaan yang menjadikannya mampu mengikuti Kristus sampai akhir :”Ini ia katakan untuk menunjukkan oleh kematian seperti apa ia harus memuliakan Allah. Dan setelah ini Ia berkata padanya “Ikutilah Aku”” (Yoh 21:19)

Sejak hari itu, Petrus “mengikuti” sang Tuan dengan kesadaran yang tepat akan kerapuhannya sendiri, tetapi pemahaman ini tidak mematahkan semangatnya. Melainkan, ia tahu bahwa ia dapat bergantung pada kehadiran Ia yang bangkit yang ada di sebelahnya.

Benediktus XVI

24 Mei 2006

Gambar : The Tears of St. Peter by Georges de la Tour, 1645.

Manusia adalah Pengemis dihadapan Allah

Bacaan Hari Rabu, 27 November 2013

Bacaan I – Dan. 5:1-6,13-14,16-17,23-28;

Bacaan Injil – Luk. 21:12-19

Bacaan hari ini menampilkan dua sisi pengalaman manusia yang saling bertolak belakang : Pada bacaan pertama, kita melihat bagaimana Raja Belsyazar dengan segala kekayaannya menyembah harta bendanya, bersenang-senang dan berpuas diri dengan harta duniawi, sehingga Allah memperingatkan mereka dengan sebuah tulisan di dinding Istana bahwa apa kepemilikan mereka akan berakhir, dan kisah ini berakhir dengan terbunuhnya Raja Belsyazar.

Bacaan kedua menguraikan tentang Kristus yang berbicara kepada dua belas rasul, bahwa mereka akan disiksa dan dipenjara (Luk 21:12), dikhianati oleh keluarga, saudara dan teman serta beberapa diantara mereka akan dihukum mati (16), kebencian terhadap mereka karena nama Yesus pun menjadi bagian dari hidup mereka (18). Namun toh mereka akan memperoleh hidupnya kembali.

Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan ini?

Sejak kejatuhan manusia pertama, kodrat manusia menjadi rapuh dan condong ke arah yang jahat. Hasrat manusia menjadi tidak teratur dan egois, membuatnya sulit untuk tunduk kepada akal budi, dan akal budi sulit untuk taat pada pengetahuan akan Allah. Continue reading

Kerendahan Hati : Pelajaran dari Bilbo Baggins

Bilbo Baggins

Tanggal 14 Desember film The Hobbit mulai diputar di bioskop. The Hobbit awalnya merupakan sebuah novel yang ditulis oleh J.R.R Tolkien, seorang penulis novel yang juga menulis The Lord of The Rings, novel yang sangat katolik walaupun unsur kekatolikannya tidak akan bisa dilihat secara langsung.

Nah, kali ini saya akan membahas tentang tokoh utama The Hobbit, Bilbo Baggins, dan apa yang kita bisa pelajari darinya. Sebagai pengantar, akan saya buka refleksi kita dengan tulisan berkut :

 “We all, like Frodo, carry a Quest, a Task: our daily duties. They come to us, not from us. We are free only to accept or refuse our task- and, implicitly, our Taskmaster. None of us is a free creator or designer of his own life. “None of us lives to himself, and none of us dies to himself” (Rom 14:7). Either God, or fate, or meaningless chance has laid upon each of us a Task, a Quest, which we would not have chosen for ourselves.We are all Hobbits who love our Shire, or security, our creature comforts, whether these are pipeweed, mushrooms, five meals a day, and local gossip, or Starbucks coffees, recreational sex, and politics. But something, some authority not named in The Lord of the Rings (but named in theSilmarillion), has decreed that a Quest should interrupt this delightful Epicurean garden and send us on an odyssey. We are plucked out of our Hobbit holes and plunked down onto a Road.” – Peter Kreeft

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kutipan tersebut dan hubungannya dengan film The Hobbit :

  1. Kita semua memiliki perjalanan dan tugas kita sendiri : kewajiban sehari-hari kita. Mereka datang pada kita, bukan berasal dari kita. Kita hanya diberikan pilihan untuk menerima atau menolaknya, termasuk menolak Ia yang memberikan-Nya. Seperti Bilbo, ia yang pada awalnya tidak menginginkan petualangan, namun akhirnya menerimanya dengan semangat
  2. Sama seperti Bilbo, kita tentu tidak mau menempuh perjalanan dengan masa depan yang tak pasti, meninggalkan semua kenyamanan kita. Tapi ada kalanya bahwa petualangan atau perjalanan ini memang sudah direncanakan oleh-Nya, untuk mengajarkan kita sesuatu. Kita ditarik, dari tempat tinggal kita yang nyaman dan aman, menuju sebuah jalan yang tidak aman dan tidak pasti.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari petulangan ini? Berikut ini adalah makna dan tujuan yang tersembunyi dibaliknya : Continue reading