Hati yang Dibebaskan

Denial of St Peter Gerit Van Honthorst

“Jikalau Anda berkata, ‘tunjukkan kepadaku Allahmu’, saya akan menjawabmu,’tunjukkan kepadaku manusia yang ada dalam dirimu’… sebab Allah dilihat oleh manusia yang sanggup melihat Dia, yang memiliki mata batin yang terbuka… Jiwa manusia mesti jernih seperti kaca yang berkilauan.” —Teofilus dari Antiokia

Tuhan Yesus memberikan kita peringatan melalui bacaan Injil hari ini: sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mark 7:21-22). Berdasarkan ayat tersebut, saya ingin merenungkan satu kata yang sangat sering digunakan banyak orang: hati. Kata “hati” sering direduksi maknanya. Di jaman modern, sepertinya manusia cenderung menyamakan hati dengan perasaan sentimental. Hati hanya dianggap memiliki makna subjektif, hanya berkaitan dengan perasaan-perasaan yang semu dan dangkal. Manusia tidak ingin hatinya terluka, artinya: saya tidak ingin mendengar hal yang tidak saya sukai, saya ingin mendengar sesuatu yang menyenangkan saya. Saya ingin hidup sesuai dengan kehendak dan keinginan saya.

Terdapat kecenderungan manusia untuk mengutamakan hati (baca : perasaan) di atas kebenaran. Ada mentalitas “yang penting hatinya”, yang berarti bahwa kebenaran itu tidak penting. Keselarasan antara apa yang ada di dalam hati dan perbuatan lahiriah menjadi tidak bermakna. Manusia menjadi penyembah berhala, menyembah “hati” – yaitu ego mereka sendiri – dan akhirnya menjadi tuan dan penentu atas apa yang benar dan salah, yang baik dan buruk. Kesesatan ini berasal dari ketidakharmonisan antara sisi batiniah (intelek, kehendak dan emosi/perasaan) dan lahiriah manusia, dengan kebenaran objektif yang berasal dari Allah dan Gereja-Nya.

St. Gregorius dari Nyssa menyebutkan tiga aspek kehidupan Kristiani: perbuatan, perkataan dan pikiran. Pikiran ada lebih dahulu, baru disusul oleh kata-kata yang mencerminkan apa yang ada dalam pikiran, lalu diikuti oleh perbuatan yang membawa apa yang ada dalam pikiran. Ketiganya harus diarahkan kepada Kristus, disatukan dalam Kristus. Apa yang ada dalam hati harus bersumber dari Kristus, agar apa yang diwujudkan dalam perbuatan lahiriah memantulkan kemuliaan Kristus. Kita harus hidup dalam persahabatan dengan Kristus, agar kita dapat memiliki hati yang murni. Dengan demikian, maka hati yang murni berarti “hati yang mengasihi yang masuk ke dalam persekutuan pengabdian dan ketaatan bersama Yesus Kristus” (Paus Benediktus XVI).

Bagaimana caranya untuk memurnikan hati? Ketika merenungkan hal ini, saya teringat perkataan St. Yohanes: “Kita harus memandang Dia yang mereka tikam!” (Yoh 19:37). Ayat tersebut dapat dihubungkan dengan perkataan Penginjil Lukas: “Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus” (Luk 22:61). Tuhan mencari dan memandang Petrus yang baru saja menyangkal-Nya sebanyak tiga kali. Mata Petrus dan Mata Yesus bertemu di momen ketika Petrus jatuh begitu dalam: Ia mengkhianati Tuannya, dan berencana untuk lari dari-Nya.

Drama ini merupakan peristiwa yang selalu membuat saya meneteskan air mata. Ketika saya berusaha menempatkan diri dalam posisi Petrus yang memandang Tuhan, saya yakin Petrus teringat perkataan Yesus kepada para rasul setelah memberikan pengajaran “keras” tentang Ekaristi: “Akankah kamu pergi juga?” (Yoh 6:67). Petrus dulu menjawab: “Tuhan, kemana lagi kami akan pergi?…kami percaya Engkaulah yang kudus dari Allah ” (Yoh 6:66-69).

Pandangan mata Yesus membangkitkan kenangan akan jawaban Petrus sendiri di dalam hatinya. Tentu, suara hati Petrus berseru dengan lantang: Setelah menyangkal Tuhanmu, apakah sekarang kamu hendak pergi meninggalkan Dia? Bukankah dulu kamu berkata bahwa hanya kepada Tuhanlah kamu akan pergi? (bdk Yoh 6:66-69) Sekarang, apa jawabmu? Pandangan mata Yesus bagaikan tombak yang membuka kebenaran di hati Petrus yang terdalam, dan kita tahu bahwa dalam diamnya Petrus, ia menjawab dengan perbuatan: Petrus pergi keluar dan menangis dengan sedihnya (Luk 22:62).

Bagaimana dengan kita? Apa reaksi kita ketika memandang Kristus yang mereka tikam dengan tombak? Apakah kita merasa jijik karena ia tidak rupawan dan semaraknya pun tidak ada? (Yes 53:2) Apakah kita mengacuhkan kenyataan bahwa ia ditikam karena pemberontakan kita, Ia diremukkan oleh kejahatan kita? (ay.5). Bagi saya, jawabannya jelas: saya ingin pergi bersama Petrus. Saya mau menangis dengan sedih bersama Petrus. Saya mau menyesali dan menumpahkan air mata atas dosa-dosa saya yang melukai Tuhan. Hanya dengan cara inilah, hati manusia dapat dimurnikan. Hanya dengan cara inilah, Tuhan dapat mengangkat saya keluar dari lembah air mata menuju taman surgawi.

Sahabat Dominikan terkasih, tatapan mata Yesus bagaikan tombak yang menikam hati kita yang jahat. Dengan memandang Ia, marilah kita membiarkan Ia menghancurkan apa yang jahat dalam batin kita, seperti yang diungkapkan oleh St. Agustinus:

“Carilah di dalam hatimu apa yang menyenangkan bagi Allah. Hatimu harus dihancurkan. Apakah engkau takut hatimu binasa? Engkau memiliki jawabannya: Ciptakanlah hati yang murni di dalamku, ya Allah. Agar hati yang murni dapat diciptakan, hati yang tidak murni harus dihancurkan.”
— St. Augustinus

Ini adalah tikaman yang menyakitkan, karena tombak ini memutus belenggu yang menjerat hati terhadap yang jahat (lih. Mark 7:21-22). Namun ia juga membebaskan, sejauh kita mampu untuk menerima dan menyadari bahwa kebenaran ini dapat memerdekakan kita dari keberdosaan kita.

Kebenaran bukanlah sekedar konsep atau gagasan yang abstrak, melainkan seorang Pribadi Ilahi, Ia adalah Yesus Kristus, Penebus manusia. Karya penebusan membutuhkan rasa sakit, membutuhkan tikaman – karena tombak yang menikam hati membuka ruang bagi kebenaran, dan pada akhirnya kita harus membiarkan diri kita dimurnikan oleh rahmat ilahi. Marilah kita dengan setia memandang Yesus yang tergantung di kayu salib, karena pandangan Yesus adalah pandangan yang membuka kebenaran tentang diri kita yang sebenarnya, dan pada akhirnya pandangan Yesus dapat mendorong kita bertekun dalam mengerjakan keselamatan kita.

Saya tutup renungan ini dengan kutipan dari Venerable Fulton J. Sheen:

“Terkadang, satu-satunya cara agar Tuhan yang baik dapat masuk ke dalam hati adalah dengan mematahkannya.”

BACAAN HARI INI

Bacaan I — 1Raja-Raja 10:1-10;
Mazmur Tanggapan — Mazmur 37:5-6,30-31,39-40;
Bacaan Injil — Markus 7:14-23

Cornelius Pulung
Postulan Dominikan Awam Indonesia

Gambar: “The Denial of Saint Peter”, Gerrit van Honthorst

Sang Cinta yang Tak Pernah Datang Terlambat

Adoration of The Shepherds by Pupil of Rembrant 1646

Saudara-saudari terkasih,

Ijinkan saya merenung bersama anda tentang awal dari sebuah kisah cinta teragung sepanjang sejarah manusia. Sebuah kisah cinta, yang diteruskan dari generasi nenek buyut kita, dan akan tetap terpelihara kenangan tentang cinta itu sampai generasi anak cucu kita. Inilah awal dari kebenaran tentang kisah cinta itu : bahwa begitu besar kasih Bapa kepada manusia, sehingga Ia rela mengutus Putra Tunggal-Nya menjadi manusia, untuk menyelamatkannya dan membawanya pulang ke rumah surgawi, ke dalam keluarga Tritunggal Mahakudus.

Pada renungan ini saya ingin mengajak anda semua untuk memusatkan perhatian kita kepada orang-orang sederhana yang hadir ketika Yesus lahir ke dunia. Merekalah individu yang memilih untuk menanggapi undangan malaikat, yang memutuskan untuk berjalan di jalan keselamatan. Oleh karena keberanian, kerendahan hati, kesiapan mereka untuk menerima kehendak Allah, mereka menjadi pribadi yang tidak terlupakan sepanjang sejarah keselamatan. Mereka menjadi yang pertama melihat Allah, yang berlari dalam cinta menuju Allah. Dulu, Musa hanya mampu melihat punggung Allah. Kini, Allah bukanlah gagasan yang abstrak dan jauh dari hidup manusia. Peristiwa Inkarnasi memampukan manusia untuk melihat wajah Allah, Immanuel, yang berarti Allah beserta kita. Mereka yang mendapat kesempatan pertama itu tidak lain adalah Ibu Maria, St. Yoseph dan para gembala. Mereka bukanlah sosok yang terlambat mencintai Sang Keindahan surgawi, yang selalu purba, selalu baru (St. Augustinus).  Mereka memiliki karakteristik mendasar, keutamaan yang diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan dengan melihat Allah (Mat 5:8) yang datang dalam ketersembunyian.

Saya merasa tersentuh ketika penginjil Lukas berkata “Maria menyimpan semua itu di dalam hatinya dan merenungkannya”. Perkataan ini membangkitkan imajinasi saya terhadap Bunda Maria sebagai Ibu yang berkata-kata dalam diam. Inilah Bunda yang menanyakan makna peristiwa hidupnya dalam keheningan. Inilah wanita yang berseru dalam kesunyian. Inilah Ibu yang menderita dalam diam di kaki salib Putra-Nya. Namun, apa maksudnya menyimpan dan merenungkan segalanya itu? Continue reading

Quotes on Doing God’s Will

I got these quotes from Papa Benedict’s book : Light of The World. It inspires and gives me strength to do God’s will, which often contrary to my will. It’s hard to do something you don’t want, something that is beyond your capabilities. Sometimes we need encouragement in order to trust God’s plan for us. I do hope these quotes will help us to be the faithful servant, to renew our “fiat” everyday, to entrust ourself to God’s loving hand, so in the end God will say ‘Well done, good and faithful servant!’

“What are you doing with me? Now the responsibility is yours. You must lead me! I can’t do it. If you wanted me, then you must also help me!” In this sense, I stood, let us say, in an urgent dialogue relationship with the Lord: if he does the one thing he must also do the other.

For I see very well that almost everything I have to do is something I myself cannot do at all. That fact already forces me, so to speak, to place myself in the Lord’s hands and to say to him: “You do it, if you want it!” In this sense prayer and contact with God are now even more necessary and also even more natural and self-evident than before.

It is like this: When a man says Yes during his priestly ordination, he may have some idea of what his own charism could he, hut he also knows: I have placed myself into the hands of the bishop and ultimately of the Lord. I cannot pick and choose what I want. In the end I must allow myself to be led. I had in fact the notion that being a theology professor was my charism, and I was very happy when my idea became a reality. But it was also clear to me: I am always in the Lord’s hands, and I must also be prepared for things that I do not want. In this sense it was certainly surprising suddenly to be snatched away and no longer to be able to follow my own path. But as I said, the fundamental Yes also contained the thought that I remain at the Lord’s disposal and perhaps will also have to do things someday that I myself would not like.

So I know that now I am no longer speaking for myself, but that I am simply there for the Lord—and that I don’t need to worry whether I look good, whether I am well-received, and that sort of thing. I am carrying out the task entrusted to me, in the awareness that this is being done for Another and that this Other is standing by me. This enables the trips to go ahead without a sense of fear on my part.

Yes, one often feels that. In the sense of: Now I have been able to do something that did not come from me at all. Now I entrust myself to the Lord and notice, yes, there is help there, something is being done that is not my own doing. In that sense there is absolutely an experience of the grace of office.

I simply told myself that I am who I am. I don’t try to be someone else. What I can give I give, and what I can’t give I don’t try to give, either. I don’t try to make myself into something I am not.

Other quotes from different book :

Saya harus mengatakan bahwa kita masing-masing pernah mengalami saat-saat dimana kita merasa kecil hati menghadapi semua urusan yang harus dijalankan, tetapi dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada secara kenyataannya toh urusan-urusan itu dapat diselesaikan. Sekali lagi, Paus juga menghadapi hal yang sama. Apa yang harus saya lakukan sekarang ini untuk Gereja, dengan begitu banyak masalah, kegembiraan, dan tantangan yang mencemaskan Gereja universal? Jadi, banyak hal yang terjadi, hari demi hari, yang tak dapat saya tanggapi semuanya. Saya mengerjakan bagian saya, saya melakukan semampu saya.  Saya mencoba mengidentifikasi prioritas. Dan saya bergembira karena mempunyai begitu banyak rekan kerja yang baik untuk membantu saya. Saya dapat mengatakan, disini saat ini : Setiap hari saya melihat begitu banyak pekerjaan yang dilakukan oleh Sekretariat Negara dibawah bimbingan anda yang bijaksana. Dan hanya dengan jaringan kolaborasi ini, saya menyesuaikan diri saya dan kemampuan-kemampuan saya yang terbatas ke dalam sebuah realitas yang lebih luas : mampukah dan beranikah saya melangkah maju?

Selanjutnya, saya ingin mengatakan, bahwa pertama-tama, apa yang perlu bagi kita semua adalah menyadari keterbatasan-keterbatasan kita, dengan rendah hati menyadari bahwa kita harus meletakkan banyak hal di tangan Tuhan. Hari ini, kita mendengar dalam Injil perumpamaan tentang Hamba yang Setia (bdk Mat 24:42-51). Hamba ini, seperti dikatakan Tuhan kepada kita, memberi makan kepada orang lain pada waktu yang tepat. Ia tidak melakukan segalanya sekaligus tetapi dengan bijaksana dan hati-hati tahu apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu. Ia melakukan dengan kerendahan hati dan juga yakin dengan kepercayaan tuannya. Itulah yang harus kita lakukan : melakukan semampu kita dengan bijaksana dan hati-hati dan percaya pada kebaikan dari “Tuan” kita,  Tuhan, karena pada akhirnya Dia sendirilah yang mengendalikan Gereja-Nya