Kenangan yang Membuka Pintu Pengharapan

Tolkien Quote

Saat sedang menghabiskan waktu dalam kesendirian, saya suka berjalan. Tak tahu kemana, hanya melangkah dan menyusuri jalan yang ada. Selama perjalanan itu, saya melihat orang-orang malang yang mengemis, meminta uang agar bisa pulang. Ada juga yang tidur di jembatan, karena tidak memiliki tempat persinggahan. Ada yang duduk menunggu belas kasihan, dengan tatapan penuh derita.

Pemandangan itu membenamkan diri saya dalam sebuah tanda tanya: kenapa mereka? Kenapa bukan saya yang menjadi mereka? Kenapa harus mereka yang menderita? Banyak orang berlalu lalang, tetapi kenapa mereka seolah acuh dan tidak membantu? Akankah saya juga bersikap acuh, sedangkan Yesus sendiri berkata bahwa tiap perbuatan yang dilakukan kepada orang yang paling hina, itu dilakukan juga terhadapnya? Tuhan, apa jawabmu? Segeralah menjawab aku! (Mazmur 69:17)

Jujur, di hadapan kenyataan ini, sempat saya merasakan diamnya Tuhan. Dunia tampak seperti padang gurun, dengan orang-orang yang (mungkin) haus akan kasih Tuhan, tapi toh sepertinya tidak ada yang memberi mereka minum. Hanya kesulitan hidup yang menjadi makanan mereka, hanya peluh yang menjadi teman mereka.

Ah, mungkin sebenarnya Tuhan tidak diam, tetapi menunggu saya untuk menanggapi kehausan orang-orang malang yang saya temui itu. Saya tentu bisa memberikan makan dan minum kepada sedikit orang, tetapi haruskah kepada semua yang saya temui? Bagaimana saya mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Matius 3:3) kepada mereka yang miskin, hanya dengan memberi uang yang memampukan mereka memperoleh makan dan minum? Apa yang bisa saya lakukan bagi mereka, agar mereka mengenal Kristus?

“Aku dungu dan tidak mengerti…” (Mazmur 73:22). Kedunguan manusia membuatnya sulit memahami jawaban dibalik setiap pertanyaan kenapa. Namun, ada sedikit hal yang bisa kita pahami dari permenungan diatas.

Kemiskinan manusia – yang bersifat fisik dan rohani – mengingatkan kita akan kondisi manusia yang merindukan Sang Penyelamat. Manusia, meskipun terluka oleh dosa, tetap memiliki kerinduan untuk mencari kebahagiaan yang penuh. Dalam perjalanannya ini, ia membutuhkan terang yang berasal dari Allah, dari Allah yang menjadi dekat kepada manusia untuk menyampaikan kebenaran yang menyelamatkan, yang memberikan kebahagiaan yang sejati.

“Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku” (Mazmur 73 : 23). Manusia memiliki kedekatan dengan orang yang ia cintai. Saya mencintai Kristus, dan Kristus mendekatkan diri kepada manusia, termasuk saya. Karenanya saya juga ingin memperkenalkan Kristus kepada orang-orang lain. Saya kira dorongan seperti ini juga dimiliki oleh para pewarta yang berharap agar pewartaan mereka dapat membuat Kristus diterima dan dicintai oleh mereka yang mendengarnya.

Manusia terkadang tidak puas hanya dengan mempersiapkan jalan bagi Tuhan, ia ingin mereka yang belum mengenal Kristus menyambut Tuhan, mendengarkan Dia yang mengetuk pintu, membukakan pintu bagi-Nya, membersihkan ruang hatinya melalui pertobatan, mengajak-Nya berdiam di hatinya serta bergabung dengan Gereja-Nya. Terdapat dorongan untuk melakukan segalanya, mengendalikan semuanya agar tujuan yang mulia itu dapat tercapai. Sayangnya, kodrat manusia tidak memungkinkan ia untuk melakukan segala hal dengan sempurna. Manusia tidak bisa memecahkan setiap persoalan. Ada keterbatasan yang tak bisa dilampaui. Keinginan untuk mengontrol dan mengendalikan segalanya adalah jebakan yang harus dihindari seorang pewarta.

“Kita adalah hamba-hamba yang tak berguna” (Lukas 17:10). Kita tidak perlu patah semangat dan berkecil hati bila kita tidak mampu melakukan segalanya. Pada akhirnya, kita hanyalah instrumen di tangan Tuhan. Tapi kita bukanlah instrumen yang lumpuh dan tak berdaya di hadapan situasi dunia yang terlihat gelap dan seringkali tampak tak memiliki pengharapan.

“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan (Matius 3:3).” Masa advent yang sedang kita jalani ini mengajarkan kita untuk menjadi instrumen Allah yang memiliki pengharapan. Masa advent membantu manusia “membangkitkan kenangan emosional … dalam diri kita, yaitu, kenangan Akan Allah yang menjadi seorang anak. Ini adalah kenangan yang menyembuhkan…dan membuka pintu pengharapan” (Paus Benediktus XVI).

Seperti Maria yang membuka pintu bagi kedatangan Yesus ke dunia, masa advent membukakan pintu pengharapan yang menyelamatkan: bahwa Allah, karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, dengan rendah hati menampilkan kekecilan-Nya di hadapan manusia, agar manusia tidak takut untuk berjumpa dengan-Nya.

Inilah hadiah terbesar bagi manusia: bahwa dengan kehadiran Allah yang kita nantikan, manusia memiliki jalan menuju Allah. Dengan kehadiran Allah, dunia memiliki pengharapan yang tidak akan mengecewakan manusia.

“Mereka yang memiliki pengharapan, hidup secara berbeda” (Paus Benediktus XVI). Dengan pengharapan yang ditawarkan Yesus, manusia mampu menjadi terang, menjadi penuntun jalan menuju Allah. Terang pengharapan inilah yang mampu mendorong manusia untuk menjadi rekan kerja Allah. Terang pengharapan inilah yang memampukan manusia mempersiapkan jalan bagi-Nya, dengan keterbatasan yang menjadi bagian darinya.

Pada akhirnya, di hadapan drama hidup manusia yang ditandai dengan kemiskinan dan penderitaan, inilah yang bisa kita lakukan :

“Dengan segala kerendahan hati kita akan melakukan apa yang kita bisa, dan dalam kerendahan hati yang penuh kita akan mempercayakan sisanya kepada Tuhan. Allah lah yang mengatur dunia, bukan kita. Kita mempersembahkan pelayanan kita sejauh yang kita bisa, dan selama ia memberikan kita kekuatan. Melakukan segala yang kita bisa dengan kekuatan yang kita miliki, merupakan tugas yang membuat hamba Yesus yang baik selalu bekerja: ”Kasih Kristus menguasai kami” (2 Korintus 5:14)” – Paus Emeritus Benediktus XVI, Ensiklik Deus Caritas Est

BACAAN HARI INI
Bacaan I – Yesaya 11:1-10
Mazmur Tanggapan – Mazmur 72:1-2,7-8,12-13,17
Bacaan II – Roma 15:4-9
Bacaan Injil – Matius 3:1-12

Advertisements

Pada Kayu Salib, Seseorang Belajar tentang Cinta.

Pada kayu salib,

Seseorang belajar tentang cinta,

Cinta yang tak terbalaskan cinta,

Cinta yang dibalas dengan luka

Pada kayu salib,

Seseorang belajar tentang cinta,

Cinta yang memberi diri hingga mati,

Cinta yang tak mempedulikan harga diri

Pada kayu salib, aku bertanya

Kenapa cinta ditakdirkan bersatu dengan Engkau, hai salib yang suci?

Kenapa cinta melekat erat dengan pengorbanan?

Kenapa cinta bersahabat dengan kerapuhan?

Mengacaukan Misa – Masalah Narsisme Imamat Masa Sekarang

Tulisan berikut merupakan terjemahan artikel yang dilakukan oleh teman saya, blogger Indonesian Papist, disini saya gabungkan bagian pertama dan kedua dalam satu postingan. Selamat membaca.

Pengantar Terjemahan

Artikel ini berisi tinjauan psikologis atas sifat narsistik dari banyak imam terkait dengan berbagai pelanggaran-pelanggaran Liturgi yang seringkali terjadi karena inisiatif para imam tersebut. Artikel ini ditulis oleh Prof. Paul C. Vitz, seorang psikolog Katolik, bersama dengan puteranya, Diakon Daniel C. Vitz, IVE. Artikel ini memang ditulis dalam konteks imam-imam Katolik di Amerika Serikat; tetapi, ketika anda membaca isinya anda akan melihat bahwa hal yang sama juga terjadi di Indonesia baik dalam contoh yang sama maupun contoh yang berbeda sehingga artikel ini juga sesuai dengan konteks di Indonesia. Karena artikel ini sangat panjang, publikasi artikel ini dibagi menjadi dua bagian. Namun, bila anda ingin membaca secara bertahap tanpa perlu bolak-balik membuka web ini, anda dapat men-download artikel ini di Google Drive atau Dropbox. Bagian kedua dapat anda baca di sini. Selamat membaca.

Pendahuluan

Sejak Konsili Vatikan II, Misa Kudus telah menjadi korban dari berbagai jenis kekacauan. Isu ini telah banyak didiskusikan dari berbagai perspektif, tetapi dalam artikel ini kami akan memeriksa aspek yang sebelumnya telah ditolak dari situasi ini – yaitu, alasan-alasan psikologis mengapa imam-imam memasukkan perubahan-perubahan ke dalam Misa Kudus. Kami tidak akan membahas tentang penjelasan teologis mengapa Misa menjadi subjek eksperimen liturgis, kami tidak akan membahas alasan-alasan liturgis untuk inovasi-inovasi tersebut. Sebaliknya, kami akan fokus pada psikologi imam dan orang-orang yang membantu dalam liturgi, yaitu pada motif-motif psikologis yang berbeda dari penalaran teologis dan liturgis.

Kami mengajukan bahwa motivasi utama di balik banyaknya perubahan dalam liturgi ini berasal dari motif-motif narsistik yang mendasar – yaitu, cinta pada diri yang ekstrim – yang ditemukan pada banyak orang dalam budaya kontemporer sekarang ini. Hal ini terutama adalah kasus berkaitan dengan perubahan-perubahan yang relatif kecil yang diperkenalkan dalam sebuah cara idiosinkratik ke dalam Misa Kudus. Kami pertama-tama merangkum dan menggambarkan sifat narsisme ini, lalu menerapkannya kepada situasi yang ditemukan di antara para imam. Continue reading

To love at all is to be vulnerable…

“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one. Lock it up safe in the casket of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. The alternative to tragedy, or at least to the risk of tragedy, is damnation. The only place outside of Heaven where you can be perfectly safe from all the dangers and perturbations of love is Hell.To love is to be vulnerable.” – C.S. Lewis (The Four Loves)

Sumber Gambar

Manusia adalah Pengemis dihadapan Allah

Bacaan Hari Rabu, 27 November 2013

Bacaan I – Dan. 5:1-6,13-14,16-17,23-28;

Bacaan Injil – Luk. 21:12-19

Bacaan hari ini menampilkan dua sisi pengalaman manusia yang saling bertolak belakang : Pada bacaan pertama, kita melihat bagaimana Raja Belsyazar dengan segala kekayaannya menyembah harta bendanya, bersenang-senang dan berpuas diri dengan harta duniawi, sehingga Allah memperingatkan mereka dengan sebuah tulisan di dinding Istana bahwa apa kepemilikan mereka akan berakhir, dan kisah ini berakhir dengan terbunuhnya Raja Belsyazar.

Bacaan kedua menguraikan tentang Kristus yang berbicara kepada dua belas rasul, bahwa mereka akan disiksa dan dipenjara (Luk 21:12), dikhianati oleh keluarga, saudara dan teman serta beberapa diantara mereka akan dihukum mati (16), kebencian terhadap mereka karena nama Yesus pun menjadi bagian dari hidup mereka (18). Namun toh mereka akan memperoleh hidupnya kembali.

Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan ini?

Sejak kejatuhan manusia pertama, kodrat manusia menjadi rapuh dan condong ke arah yang jahat. Hasrat manusia menjadi tidak teratur dan egois, membuatnya sulit untuk tunduk kepada akal budi, dan akal budi sulit untuk taat pada pengetahuan akan Allah. Continue reading

Proses ‘Menemukan’ Panggilan

Tampaknya tulisan ini menjadi tulisan pertama saya yang membicarakan sesuatu yang sangat pribadi di blog ini. Walaupun sejak awal saya tidak berniat menuliskan hal-hal yang personal, namun akhirnya saya memutuskan menuliskan pengalaman saya karena pengalaman ini erat berhubungan dengan tema blog ini, psikologi katolik.

Pagi ini saya menemukan tulisan berjudul On Finding Vocation. Membaca tulisan tersebut, saya terbawa ke masa lalu dimana orang tua saya (secara khusus, mama saya) pernah mengajukan pertanyaan berikut : “Kamu mau jadi apa setelah lulus kuliah nanti?”

Sejujurnya saya terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan itu. Saya merasa bahwa saya terpanggil untuk menjadi psikolog dan teolog, tetapi saat itu saya tidak segera menjawab pertanyaan itu, melainkan saya berkata “Nanti kuberitahu kalau aku sudah membuat keputusan”.

Setelah pengalaman itu, maka saya mulai mengawali proses discernment untuk menemukan panggilan saya. Saat itu, saya mulai berdoa. Saya meminta tanda, dan jawaban, ke mana saya akan melangkah nanti. Apa sesungguhnya panggilan saya? Continue reading

Mencinta Hingga Terluka

Bacaan hari Rabu, 6 November 2013

Roma 13 : 8-10

8. Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. 9. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! 10. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Lukas 14 : 25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

———-

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.”Maz 51 : 5

Kedua bacaan hari ini berbicara tentang kasih dan mengikuti Kristus. Kita tahu bahwa hukum yang utama adalah mengasihi Allah, dan juga sesama. Namun, mengapa Kristus berkata bahwa untuk menjadi murid-Nya kita harus membenci bapa, ibu, suami, istri dan saudara-saudari kita? Mengapa kita harus memikul salib untuk mengikuti Dia? Apakah ini berarti Allah menghendaki manusia menderita? Continue reading