Mengapa Psikologi Saja Tidaklah Memadai

Suatu ketika saya sedang mencari artikel yang membahas psikologi dalam perspektif iman katolik, dan saya menemukan sebuah artikel yang berjudul Beyond Psyhology, ditulis oleh Paul Vitz, seorang profesor psikologi. Artikel tersebut sebenarnya membahas tiga hal, yaitu tentang self-esteem dan psikoterapi, dan bagaimana psikologi tidak mampu memberikan jawaban terhadap masalah penderitaan manusia. Saya menyarankan anda untuk membaca artikel lengkapnya.

Pada bagian artikel itu, ada satu bagian yang menjabarkan dengan baik mengapa ilmu psikologi tidaklah cukup dalam menjawab pertanyaan psikologis, dan jawaban yang ada hanyalah jawaban teologis. Sebenarnya saya sendiri sudah berencana untuk menuliskan hal ini, namun akhirnya saya memutuskan untuk menerjemahkan sebagian dari artikel tersebut. Berikut ini adalah terjemahan bagian yang relevan :

Banyak orang menderita karena abuse atau ketiadaan kasih ketika mereka masih muda. Tidak ada keraguan akan hal ini. Sebagian besar hal yang telah melukai kita adalah ketika orang-orang tidak mengasihi. Dan hal ini dapat sangat menyakitkan bagi anak-anak bila persoalan ini serius dan berulang. Dan dalam psikoterapi terkadang anda tiba pada pemahaman yang lebih baik terhadap masa lalu yang abusive. Seseorang dapat memiliki pemahaman tentang itu.Mereka dapat menjadi katarsis dalam mengungkapkan apa yang terjadi. Tapi fakta mendasarnya adalah ini : Bila seseorang gagal mendapatkan kasih yang mereka perlukan ketika mereka muda, tidak mungkin seorang psikoterapis dapat menggantikan kasih itu. Continue reading

Keputusasaan dan Iman

oleh : Felix Lengkong, Ph.D*

“Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan”

Dalam sebuah diskusi baru-baru ini seorang romo pembimbing para frater (calon pastur) di Manado berkata :”Putus asa kadang melekat dengan kehidupan kita dan kita terlibat di dalamnya”

“Secara tidak sengaja,” ia melanjutkan, “saya membuka tulisan tentang putus asa dalam Ensiklopedi Gereja.” Disitu tertulis, “Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan. Cukup banyak orang beriman merasa tidak dikasihani Allah, karena kurang beruntung dibandingkan orang lain. Maka, mereka menjauhi Allah. Sikap seperti ini berbahaya untuk iman.”

Antara Psikologi/Psikoterapi dan Teologi/Religiositas Continue reading