True Love : What Should We Know about It.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan… (1 Kor 13 : 4-8)

14 Februari adalah hari Valentine atau hari kasih sayang dimana manusia saling mengekspresikan cintanya melalui berbagai bentuk, entah itu coklat, puisi, mawar serta berbagai ungkapan cinta lainnya. Namun sayangnya hari kasih sayang ini tidak diikuti dengan pemahaman yang tepat akan cinta, khususnya cinta yang sejati. Bukan tidak mungkin bahwa hari Valentine dijadikan sebagai ajang untuk mengumbar nafsu seksual di berbagai belahan dunia lain. Oleh karena itulah, maka saya akan sedikit membagi insight yang saya dapatkan dari buku yang berjudul Love and Reponsibility by Karol Wojtyla. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda

Loving VS Using

Lawan dari cinta bukanlah benci, melainkan memanfaatkan. Ketika individu memanfaatkan kekasihnya sebagai objek untuk suatu tujuan yang bersifat seksual dan emosional, maka sebenarnya apa yang ia cari hanyalah kenikmatan yang diperoleh dari sebuah cinta yang semu. Inilah bahaya dari hedonisme dan utilitarianisme, dimana kenikamatan dijadikan sebagai suatu prinsip utama dalam kehidupan yang harus dicari dan dikejar. Sebuah ideologi yang bila diperiksa lebih lanjut, mengajarkan suatu perilaku untuk mencari apa yang terlihat baik, benar dan indah, bukan mencari apa yang sungguh baik, benar dan indah. Suatu ideologi yang merendahkan martabat seorang manusia.

Berbicara tentang cinta selalu identik dengan perasaan. Apa yang kita rasakan awalnya berasal dari indra serta persepsi kita terhadap diri seseorang, yang kemudian diproses secara kognitif dan melibatkan emosi. Tapi cinta sejati bukan sekedar perasan. Perasaan, seberapapun besar atau kuatnya, sama sekali bukanlah ukuran dari cinta yang sejati. Jadi apa itu cinta sejati? Mari kita mengeksplorasi lebih lanjut tentang ini. Continue reading

Advertisements

Bagaimana Sebaiknya Kamu Memulai Hubungan dengan Orang yang Kamu Cintai?

Dicopy/paste dari Lux Veritatis 7

Katakan kamu sedang menjalani pendidikan di SMA, dan kamu bertemu dengan seseorang yang kamu yakin kamu dapat mencintai dia selamanya sampai ke jenjang pernikahan, tetapi pernikahan masih lama, kita asumsikan satu dekade dari sekarang. Dalam jangka waktu sepuluh tahun kedepan, hubungan apa yang ingin kamu jalin kedepannya? Hubungan cinta monyet yang semu atau sebuah persahabatan yang kokoh? Persahabatan sangat mudah dijaga dan dirawat terlebih juga dapat menjadi fondasi atas sebuah cinta yang akan muncul sewaktu-waktu. Terlepas dari hal itu, apa tujuan membuat komitmen dengan seseorang yang nantinya kamu juga dapat memprediksikan bahwa hubungan ini juga akan dapat putus sewaktu-waktu dalam jangka waktu dua tahun masa kuliah?

Yang banyak orang tidak sadari adalah, kamu tidak perlu berpacaran di masa SMA untuk mengenal lawan jenis yang kamu sukai. Jangan khawatir kalau kamu belum mendapat pasangan, tetapi tidak perlu terburu-buru menjalin hubungan anggap saja ini adalah waktu dimana kamu terbebas dari gangguan dan memiliki waktu lebih untuk mencari tahu apa yang Tuhan inginkan terhadap kehidupanmu. Continue reading