Hati yang Dibebaskan

Denial of St Peter Gerit Van Honthorst

“Jikalau Anda berkata, ‘tunjukkan kepadaku Allahmu’, saya akan menjawabmu,’tunjukkan kepadaku manusia yang ada dalam dirimu’… sebab Allah dilihat oleh manusia yang sanggup melihat Dia, yang memiliki mata batin yang terbuka… Jiwa manusia mesti jernih seperti kaca yang berkilauan.” —Teofilus dari Antiokia

Tuhan Yesus memberikan kita peringatan melalui bacaan Injil hari ini: sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mark 7:21-22). Berdasarkan ayat tersebut, saya ingin merenungkan satu kata yang sangat sering digunakan banyak orang: hati. Kata “hati” sering direduksi maknanya. Di jaman modern, sepertinya manusia cenderung menyamakan hati dengan perasaan sentimental. Hati hanya dianggap memiliki makna subjektif, hanya berkaitan dengan perasaan-perasaan yang semu dan dangkal. Manusia tidak ingin hatinya terluka, artinya: saya tidak ingin mendengar hal yang tidak saya sukai, saya ingin mendengar sesuatu yang menyenangkan saya. Saya ingin hidup sesuai dengan kehendak dan keinginan saya.

Terdapat kecenderungan manusia untuk mengutamakan hati (baca : perasaan) di atas kebenaran. Ada mentalitas “yang penting hatinya”, yang berarti bahwa kebenaran itu tidak penting. Keselarasan antara apa yang ada di dalam hati dan perbuatan lahiriah menjadi tidak bermakna. Manusia menjadi penyembah berhala, menyembah “hati” – yaitu ego mereka sendiri – dan akhirnya menjadi tuan dan penentu atas apa yang benar dan salah, yang baik dan buruk. Kesesatan ini berasal dari ketidakharmonisan antara sisi batiniah (intelek, kehendak dan emosi/perasaan) dan lahiriah manusia, dengan kebenaran objektif yang berasal dari Allah dan Gereja-Nya.

St. Gregorius dari Nyssa menyebutkan tiga aspek kehidupan Kristiani: perbuatan, perkataan dan pikiran. Pikiran ada lebih dahulu, baru disusul oleh kata-kata yang mencerminkan apa yang ada dalam pikiran, lalu diikuti oleh perbuatan yang membawa apa yang ada dalam pikiran. Ketiganya harus diarahkan kepada Kristus, disatukan dalam Kristus. Apa yang ada dalam hati harus bersumber dari Kristus, agar apa yang diwujudkan dalam perbuatan lahiriah memantulkan kemuliaan Kristus. Kita harus hidup dalam persahabatan dengan Kristus, agar kita dapat memiliki hati yang murni. Dengan demikian, maka hati yang murni berarti “hati yang mengasihi yang masuk ke dalam persekutuan pengabdian dan ketaatan bersama Yesus Kristus” (Paus Benediktus XVI).

Bagaimana caranya untuk memurnikan hati? Ketika merenungkan hal ini, saya teringat perkataan St. Yohanes: “Kita harus memandang Dia yang mereka tikam!” (Yoh 19:37). Ayat tersebut dapat dihubungkan dengan perkataan Penginjil Lukas: “Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus” (Luk 22:61). Tuhan mencari dan memandang Petrus yang baru saja menyangkal-Nya sebanyak tiga kali. Mata Petrus dan Mata Yesus bertemu di momen ketika Petrus jatuh begitu dalam: Ia mengkhianati Tuannya, dan berencana untuk lari dari-Nya.

Drama ini merupakan peristiwa yang selalu membuat saya meneteskan air mata. Ketika saya berusaha menempatkan diri dalam posisi Petrus yang memandang Tuhan, saya yakin Petrus teringat perkataan Yesus kepada para rasul setelah memberikan pengajaran “keras” tentang Ekaristi: “Akankah kamu pergi juga?” (Yoh 6:67). Petrus dulu menjawab: “Tuhan, kemana lagi kami akan pergi?…kami percaya Engkaulah yang kudus dari Allah ” (Yoh 6:66-69).

Pandangan mata Yesus membangkitkan kenangan akan jawaban Petrus sendiri di dalam hatinya. Tentu, suara hati Petrus berseru dengan lantang: Setelah menyangkal Tuhanmu, apakah sekarang kamu hendak pergi meninggalkan Dia? Bukankah dulu kamu berkata bahwa hanya kepada Tuhanlah kamu akan pergi? (bdk Yoh 6:66-69) Sekarang, apa jawabmu? Pandangan mata Yesus bagaikan tombak yang membuka kebenaran di hati Petrus yang terdalam, dan kita tahu bahwa dalam diamnya Petrus, ia menjawab dengan perbuatan: Petrus pergi keluar dan menangis dengan sedihnya (Luk 22:62).

Bagaimana dengan kita? Apa reaksi kita ketika memandang Kristus yang mereka tikam dengan tombak? Apakah kita merasa jijik karena ia tidak rupawan dan semaraknya pun tidak ada? (Yes 53:2) Apakah kita mengacuhkan kenyataan bahwa ia ditikam karena pemberontakan kita, Ia diremukkan oleh kejahatan kita? (ay.5). Bagi saya, jawabannya jelas: saya ingin pergi bersama Petrus. Saya mau menangis dengan sedih bersama Petrus. Saya mau menyesali dan menumpahkan air mata atas dosa-dosa saya yang melukai Tuhan. Hanya dengan cara inilah, hati manusia dapat dimurnikan. Hanya dengan cara inilah, Tuhan dapat mengangkat saya keluar dari lembah air mata menuju taman surgawi.

Sahabat Dominikan terkasih, tatapan mata Yesus bagaikan tombak yang menikam hati kita yang jahat. Dengan memandang Ia, marilah kita membiarkan Ia menghancurkan apa yang jahat dalam batin kita, seperti yang diungkapkan oleh St. Agustinus:

“Carilah di dalam hatimu apa yang menyenangkan bagi Allah. Hatimu harus dihancurkan. Apakah engkau takut hatimu binasa? Engkau memiliki jawabannya: Ciptakanlah hati yang murni di dalamku, ya Allah. Agar hati yang murni dapat diciptakan, hati yang tidak murni harus dihancurkan.”
— St. Augustinus

Ini adalah tikaman yang menyakitkan, karena tombak ini memutus belenggu yang menjerat hati terhadap yang jahat (lih. Mark 7:21-22). Namun ia juga membebaskan, sejauh kita mampu untuk menerima dan menyadari bahwa kebenaran ini dapat memerdekakan kita dari keberdosaan kita.

Kebenaran bukanlah sekedar konsep atau gagasan yang abstrak, melainkan seorang Pribadi Ilahi, Ia adalah Yesus Kristus, Penebus manusia. Karya penebusan membutuhkan rasa sakit, membutuhkan tikaman – karena tombak yang menikam hati membuka ruang bagi kebenaran, dan pada akhirnya kita harus membiarkan diri kita dimurnikan oleh rahmat ilahi. Marilah kita dengan setia memandang Yesus yang tergantung di kayu salib, karena pandangan Yesus adalah pandangan yang membuka kebenaran tentang diri kita yang sebenarnya, dan pada akhirnya pandangan Yesus dapat mendorong kita bertekun dalam mengerjakan keselamatan kita.

Saya tutup renungan ini dengan kutipan dari Venerable Fulton J. Sheen:

“Terkadang, satu-satunya cara agar Tuhan yang baik dapat masuk ke dalam hati adalah dengan mematahkannya.”

BACAAN HARI INI

Bacaan I — 1Raja-Raja 10:1-10;
Mazmur Tanggapan — Mazmur 37:5-6,30-31,39-40;
Bacaan Injil — Markus 7:14-23

Cornelius Pulung
Postulan Dominikan Awam Indonesia

Gambar: “The Denial of Saint Peter”, Gerrit van Honthorst

Advertisements

Heningnya Kehadiran Tuhan

Christ on The Lake of Gennezaret byEugene Delacroix

“Kita selalu menemukan bahwa mereka yang berjalan paling dekat bersama Kristus adalah mereka yang harus menanggung pencobaan terbesar” – St. Teresa dari Avilla

Apa yang terjadi ketika hidup manusia tampak tidak masuk akal? Apa yang kita lakukan bila rasa aman kita terancam, ketika hal-hal yang kita perjuangkan kelihatannya akan menemui kegagalan? Apa reaksi kita dalam menghadapi gelombang yang menerjang kita, dalam mengatasi angin badai yang menerpa kehidupan kita?

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang drama kehidupan kristiani : bahwa ada kalanya kita merasa takut dalam menghadapi cobaan yang mendekati hidup kita. Kita pun sama seperti para rasul, ketika kita berseru kepada Allah, tampaknya Tuhan hanya diam mendengarkan kita. Atau, jangan-jangan Tuhan tertidur saat kita memanggil-Nya.

Teriakan para rasul kepada Yesus merupakan jeritan yang mewakili suara mereka yang mengalami cobaan : “Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bila kami binasa?” Namun, terkadang kita tidak seperti para rasul, setelah berhasil membangunkan Yesus, Ia meredakan angin dan danau. Dalam kehidupan ini, Yesus tidak secara langsung membereskan segala hal yang memberatkan hati kita. Dalam momen-momen yang gelap ini, kita merasakan bahwa Tuhan tampaknya tidak hadir, dan kehendak-Nya terlihat bertentangan dengan kehendak kita.

Meskipun demikian, saya ingin mengulangi apa yang dikatakan Paus Benediktus XVI, bahwa meskipun kita merasakan diamnya Tuhan dalam dunia ini, kita tidak boleh tuli pada perkataan-Nya atau buta pada kehadiran-Nya. Pencobaan yang mendatangi kita, bisa jadi merupakan tanda bahwa Tuhan berada sangat dekat dengan kita, seperti yang dinyatakan St. Teresa Avilla. Atau pencobaan ini merupakan sarana bagi Tuhan untuk mendidik kita, untuk mengkoreksi kesalahan kita. Lalu muncul pertanyaan penting : Apa yang Tuhan kehendaki dari saya dalam situasi yang tidak mengenakkan ini?

St. Augustinus berkata bahwa kita tidak perlu pergi ke tempat yang tinggi dan sepi untuk mencari Allah, melainkan kita harus turun ke tempat yang rendah, ke ruang hati kita yang terdalam, karena hati yang sederhana merupakan tempat yang rendah dan disana lah Allah berdiam. Tuhan dekat dengan orang yang rendah hati, karenanya pencobaan yang kita alami dapat menjadi pengingat bagi kita untuk selalu merendah di hadapan-Nya, mengakui segala keterbatasan dan kesalahan kita, dan menyerahkan banyak hal ke dalam tangan Tuhan.

St. Ambrosius menegaskan bahwa Tuhan selalu dekat pada mereka yang meminta pertolongan-Nya dengan tulus, dengan iman yang benar, pengharapan yang pasti, dan kasih sempurna. Oleh karena itu, jangan sampai kecemasan melumpuhkan kita, melainkan kita harus terus bertekun dalam doadan teguh dalam pengharapan, sambil melakukan apa yang bisa kita lakukan.

St. Yohanes Krisostomus dalam homilinya menjelaskan bahwa Tuhan membiarkan para murid merasakan ketakutan, karena Ia hendak mendisiplinkan mereka. Tuhan menghendaki mereka (dan kita juga) untuk menjadi para pemenang, menjadi orang-orang yang mampu menanggung pencobaan dengan gagah berani dan mulia, dalam keyakinan yang kokoh bahwa Allah selalu hadir, sekalipun mereka tidak merasakannya.

Umat beriman mengarungi perjalanan kehidupan ini dalam bahtera Tuhan. Kita tidak pernah sendirian, bahkan ketika kita merasa terabaikan dan tidak didengarkan. Kita harus berpegang teguh pada sabda Tuhan sendiri : Aku menyertai kamu hingga akhir jaman. Perkataan ini bukanlah sekedar janji palsu, melainkan sebuah kepastian iman yang tidak dapat dihancurkan, karena Sang Kebenaran-lah yang mengatakannya.

Saya tutup renungan ini dengan kutipan dari Paus Emeritus Benediktus XVI

“Ketika sekolah kehidupan menjadi sulit dan tak tertahankan, ketika saya ingin menjerit seperti Ayub, seperti Pemazmur – maka saya bisa mengubah jeritan ini menjadi kata “Bapa” dan jeritan ini secara bertahap menjadi sebuah kata, sebuah pengingat untuk percaya, karena dari sudut pandang Bapa, jelas sekali bahwa kesusahan saya, ya, penderitaan saya, merupakan bagian dari kasih yang lebih besar, yang terhadapnya saya mengucap syukur”

Bacaan Pertama — 2 Sam 12 : 1-7a, 11-17

Bacaan Injil — Mark 4 : 35-41

Gambar : “Christ on the lake of Gennezaret”, Eugene Delacroix, 1854

Kami Tahu bahwa Kesaksiannya itu Benar

The Tears of St Peter by Georges de la Tour 1645

Dixit Iesus Petro: Sequere me. Conversus Petrus vidit illum discipulum, quem diligebat Iesus, sequentem, qui et recubuit in cena super pectus eius, … Hic est discipulus ille, qui testimonium perhibet de his, et scripsit hæc: et scimus, quia verum est testimonium eius.(Dari Injil Yohanes 21 : 19-20,24: Yesus berkata pada Petrus : ‘Ikutilah Aku’. Petrus berbalik, melihat murid yang mencintai Yesus mengikuti Dia, yang juga bersandar di dada-Nya pada perjamuan Terakhir…Inilah murid yang memberikan kesaksian tentang hal-hal ini, dan telah menuliskannya, dan kami tahu bahwa kesaksiannya itu benar.”)

Sekolah iman bukanlah gerakan baris berbaris penuh kemenangan melainkan perjalanan sehari-hari yang ditandai dengan penderitaan dan kasih, pencobaan dan kesetiaan. Petrus, yang menjanjikan kesetiaan absolut, menyadari kepahitan dan penghinaan karena penyangkalan : pria arogan ini belajar pelajaran kerendahan hati dengan harga yang mahal. Petrus juga, harus belajar bahwa ia lemah dan membutuhkan pengampunan.

Ketika sikapnya berubah dan ia menyadari kebenaran akan hatinya yang lemah sebagai seorang pendosa yang beriman, ia menangis dalam kelayakan akan pertobatan yang membebaskan. Setelah tangisan ini, ia akhirnya siap untuk misi yang disediakan baginya.

Pada suatu pagi di musim semi, misi ini akan dipercayakan padanya oleh Kristus yang bangkit. Pertemuan ini terjadi di tepi danau Tiberias. Yohanes Penginjil mencatat percakapan antara Yesus dan Petrus. Terdapat suatu permainan kata yang memiliki makna yang sangat penting.

Dalam bahasa Yunani, kata “fileo” berarti kasih [dalam konteks] persahabatan, lembut tetapi tidak menyeluruh; sedangkan kata “agapao” berarti kasih tanpa batas, total dan tak bersyarat. Yesus bertanya pada Petrus pertama kali : “Simon…apakah kau mengasihiku (agapas-me)” dengan kasih yang total dan tak bersyarat ini (Yoh 21:15)?

Sebelum peristiwa pengkhianatan, Sang Rasul pasti akan berkata :”Aku mengasihimu (agapo-se) tanpa syarat”. Sekarang ia telah mengenal kesedihan yang pahit akan ketidaksetiaan, drama akan kelemahannya sendiri, ia berkata dengan kerendahan hati :”Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihimu (filo-se), yaitu, “Aku mengasihi-Mu dengan kasih manusia yang berkekurangan”. Kristus mendesak : “Simon, apakah kamu mengasihi aku dengan kasih yang total, yang aku inginkan?” Dan Petrus mengulangi jawabannya yang menunjukkan kasihnya yang rendah hati :”Kyrie, filo-se”, “Tuhan, aku mengasihi-Mu sejauh aku mampu untuk mengasihi-Mu”. Ketiga kalinya Yesus hanya berkata pada Simon :”Fileis-me?”, “Apakah kamu mengasihiku?”

Simon memahami bahwa kasihnya yang miskin ini cukup bagi Yesus, hanya ini yang mampu Ia lakukan, namun ia bersedih hati ketika Tuhan berbicara kepadanya dalam cara ini. Ia karenanya menjawab :”Tuhan, Engkau mengetahui segalanya; Engkau tahu bahwa Aku mengasihi-Mu (filo-se)” Hal ini berarti bahwa Yesus menempatkan dirinya setingkat dengan Petrus, dan bukannya Petrus yang menyetarakan dirinya dengan Yesus! Konformitas ilahi inilah persisnya yang memberikan pengharapan kepada Sang Murid, yang mengalami rasa sakit karena ketidaksetiaan.

Dari sini lahirlah kepercayaan yang menjadikannya mampu mengikuti Kristus sampai akhir :”Ini ia katakan untuk menunjukkan oleh kematian seperti apa ia harus memuliakan Allah. Dan setelah ini Ia berkata padanya “Ikutilah Aku”” (Yoh 21:19)

Sejak hari itu, Petrus “mengikuti” sang Tuan dengan kesadaran yang tepat akan kerapuhannya sendiri, tetapi pemahaman ini tidak mematahkan semangatnya. Melainkan, ia tahu bahwa ia dapat bergantung pada kehadiran Ia yang bangkit yang ada di sebelahnya.

Benediktus XVI

24 Mei 2006

Gambar : The Tears of St. Peter by Georges de la Tour, 1645.

Sang Cinta yang Tak Pernah Datang Terlambat

Adoration of The Shepherds by Pupil of Rembrant 1646

Saudara-saudari terkasih,

Ijinkan saya merenung bersama anda tentang awal dari sebuah kisah cinta teragung sepanjang sejarah manusia. Sebuah kisah cinta, yang diteruskan dari generasi nenek buyut kita, dan akan tetap terpelihara kenangan tentang cinta itu sampai generasi anak cucu kita. Inilah awal dari kebenaran tentang kisah cinta itu : bahwa begitu besar kasih Bapa kepada manusia, sehingga Ia rela mengutus Putra Tunggal-Nya menjadi manusia, untuk menyelamatkannya dan membawanya pulang ke rumah surgawi, ke dalam keluarga Tritunggal Mahakudus.

Pada renungan ini saya ingin mengajak anda semua untuk memusatkan perhatian kita kepada orang-orang sederhana yang hadir ketika Yesus lahir ke dunia. Merekalah individu yang memilih untuk menanggapi undangan malaikat, yang memutuskan untuk berjalan di jalan keselamatan. Oleh karena keberanian, kerendahan hati, kesiapan mereka untuk menerima kehendak Allah, mereka menjadi pribadi yang tidak terlupakan sepanjang sejarah keselamatan. Mereka menjadi yang pertama melihat Allah, yang berlari dalam cinta menuju Allah. Dulu, Musa hanya mampu melihat punggung Allah. Kini, Allah bukanlah gagasan yang abstrak dan jauh dari hidup manusia. Peristiwa Inkarnasi memampukan manusia untuk melihat wajah Allah, Immanuel, yang berarti Allah beserta kita. Mereka yang mendapat kesempatan pertama itu tidak lain adalah Ibu Maria, St. Yoseph dan para gembala. Mereka bukanlah sosok yang terlambat mencintai Sang Keindahan surgawi, yang selalu purba, selalu baru (St. Augustinus).  Mereka memiliki karakteristik mendasar, keutamaan yang diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan dengan melihat Allah (Mat 5:8) yang datang dalam ketersembunyian.

Saya merasa tersentuh ketika penginjil Lukas berkata “Maria menyimpan semua itu di dalam hatinya dan merenungkannya”. Perkataan ini membangkitkan imajinasi saya terhadap Bunda Maria sebagai Ibu yang berkata-kata dalam diam. Inilah Bunda yang menanyakan makna peristiwa hidupnya dalam keheningan. Inilah wanita yang berseru dalam kesunyian. Inilah Ibu yang menderita dalam diam di kaki salib Putra-Nya. Namun, apa maksudnya menyimpan dan merenungkan segalanya itu? Continue reading

Akulah Keselamatanmu

Kristus Sang Gembala

“Engkau tidak pernah menjauh dari kami, namun kami kesulitan kembali pada-Mu.” (St. Augustinus)

Setiap manusia adalah domba yang tersesat. Ia pergi meninggalkan gembalanya, Tuhannya yang baik, mencari sesuatu di dalam ciptaan duniawi yang dapat memuaskan kerinduan di dalam dirinya, sesuatu yang hanya dapat dipenuhi oleh Allah sendiri. Namun kepergiannya ini membuatnya tidak lagi mengenal jalan untuk kembali.

“Siapakah aku tanpa Engkau, selain penuntun bagi kejatuhanku?” (St. Augustinus)

Jarak yang semakin lebar antara manusia dan Allah, dapat membawa manusia dalam kondisi dimana Ia kehilangan Allah untuk selamanya. Manusia, yang tak dapat menghancurkan keterbatasannya, tidak akan pernah mampu menyelamatkan dirinya. Oleh karena itulah, sang Gembala pergi mencari mereka yang tersesat. Ia dengan rendah hati turun dari surga, menanggalkan kemuliaan surgawi, menjadi satu daging dengan manusia untuk menyelamatkannya. Ia siap menggendong kita di pundak-Nya, dan membawa kita kembali ke tujuan akhir kita, yakni kebahagiaan kekal.

“Deus caritas est – Allah adalah kasih”.

Kasih Allah memanggil kita, suara-Nya menembus ketulian kita, terang kasih-Nya menghancurkan kebutaan kita (St. Augustinus). Kasih Allah menuntut tanggapan kita : apakah kita berani membuka diri kita kepada-Nya? Apakah kita kita berani mengakui bahwa kita adalah makhluk yang bergantung pada Allah? Apakah kita mau menyambut Kristus sang Gembala baik, dan mengijinkan Ia membawa kita pulang bersama-Nya?

Dalam hati kita, marilah kita ucapkan perkataan indah yang diungkapkan St. Augustinus ini :

“Ya Tuhan Allahku, beritahu aku apa arti-Mu bagiku. Katakanlah pada jiwaku, Akulah keselamatanmu. Katakanlah sehingga aku dapat mendengarnya. Hatiku mendengarkan, Tuhan; bukalah telinga pendengaranku dan katakanlah pada jiwaku, Akulah keselamatanmu. Biarkan aku berlari menuju suara ini dan menangkap Engkau.”

Gambar : Christ as the Good Shepard, the mausoleum of Galla Placidia, C. 425-426, Mosaic

Bacaan hari Selasa, 10 Desember 2013

Yes 40 : 1-11

Mat 18 :12-14

Pada Kayu Salib, Seseorang Belajar tentang Cinta.

Pada kayu salib,

Seseorang belajar tentang cinta,

Cinta yang tak terbalaskan cinta,

Cinta yang dibalas dengan luka

Pada kayu salib,

Seseorang belajar tentang cinta,

Cinta yang memberi diri hingga mati,

Cinta yang tak mempedulikan harga diri

Pada kayu salib, aku bertanya

Kenapa cinta ditakdirkan bersatu dengan Engkau, hai salib yang suci?

Kenapa cinta melekat erat dengan pengorbanan?

Kenapa cinta bersahabat dengan kerapuhan?

Manusia adalah Pengemis dihadapan Allah

Bacaan Hari Rabu, 27 November 2013

Bacaan I – Dan. 5:1-6,13-14,16-17,23-28;

Bacaan Injil – Luk. 21:12-19

Bacaan hari ini menampilkan dua sisi pengalaman manusia yang saling bertolak belakang : Pada bacaan pertama, kita melihat bagaimana Raja Belsyazar dengan segala kekayaannya menyembah harta bendanya, bersenang-senang dan berpuas diri dengan harta duniawi, sehingga Allah memperingatkan mereka dengan sebuah tulisan di dinding Istana bahwa apa kepemilikan mereka akan berakhir, dan kisah ini berakhir dengan terbunuhnya Raja Belsyazar.

Bacaan kedua menguraikan tentang Kristus yang berbicara kepada dua belas rasul, bahwa mereka akan disiksa dan dipenjara (Luk 21:12), dikhianati oleh keluarga, saudara dan teman serta beberapa diantara mereka akan dihukum mati (16), kebencian terhadap mereka karena nama Yesus pun menjadi bagian dari hidup mereka (18). Namun toh mereka akan memperoleh hidupnya kembali.

Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan ini?

Sejak kejatuhan manusia pertama, kodrat manusia menjadi rapuh dan condong ke arah yang jahat. Hasrat manusia menjadi tidak teratur dan egois, membuatnya sulit untuk tunduk kepada akal budi, dan akal budi sulit untuk taat pada pengetahuan akan Allah. Continue reading