Yang Terakhir dari Bapa

“Ego te absolvo a pecatta tuis : in nomine patris et filii et spiritus sancti. Amen.”

Itulah absolusi terakhirnya yang ia berikan padaku

Lalu ia membuka kedua telapak tanganku, dengan ibu jarinya yang gemetar, ia ukirkan dua tanda salib kecil pada tiap telapak, berkata

“Inilah berkat terakhir ku yang kuberikan padamu”

Dihadapan ia yang tua digerogoti usia,

aku berlutut,

kepalaku tertunduk,

tanda salib yang sama ia torehkan di dahiku

“Tuhan Yesus mencintaimu, nak”

Dalam diam kuberikan satu pelukan terakhir, menemani kepergiannya.

“Bapa, ingatlah aku, saat kau tiba dalam kerajaan-Nya”

Sekarang ia hanyalah seonggok daging tak berjiwa yang duduk

tertunduk

Sesegeranya aku keluar dari kamar kejujuran itu, desiran angin dengan terburu-buru menghembuskan kabar kematiannya.

Mendadak gereja menjadi ramai penuh sesak

Dan aku?

Malam itu, kutinggalkan gereja tua itu,

berjalan sambil menengadah ke langit,

mengijinkan hujan menjelma air mata,

dan bersembunyi bersama rintik hujan.

Pada Kayu Salib, Seseorang Belajar tentang Cinta.

Pada kayu salib,

Seseorang belajar tentang cinta,

Cinta yang tak terbalaskan cinta,

Cinta yang dibalas dengan luka

Pada kayu salib,

Seseorang belajar tentang cinta,

Cinta yang memberi diri hingga mati,

Cinta yang tak mempedulikan harga diri

Pada kayu salib, aku bertanya

Kenapa cinta ditakdirkan bersatu dengan Engkau, hai salib yang suci?

Kenapa cinta melekat erat dengan pengorbanan?

Kenapa cinta bersahabat dengan kerapuhan?