Mengacaukan Misa – Masalah Narsisme Imamat Masa Sekarang

Tulisan berikut merupakan terjemahan artikel yang dilakukan oleh teman saya, blogger Indonesian Papist, disini saya gabungkan bagian pertama dan kedua dalam satu postingan. Selamat membaca.

Pengantar Terjemahan

Artikel ini berisi tinjauan psikologis atas sifat narsistik dari banyak imam terkait dengan berbagai pelanggaran-pelanggaran Liturgi yang seringkali terjadi karena inisiatif para imam tersebut. Artikel ini ditulis oleh Prof. Paul C. Vitz, seorang psikolog Katolik, bersama dengan puteranya, Diakon Daniel C. Vitz, IVE. Artikel ini memang ditulis dalam konteks imam-imam Katolik di Amerika Serikat; tetapi, ketika anda membaca isinya anda akan melihat bahwa hal yang sama juga terjadi di Indonesia baik dalam contoh yang sama maupun contoh yang berbeda sehingga artikel ini juga sesuai dengan konteks di Indonesia. Karena artikel ini sangat panjang, publikasi artikel ini dibagi menjadi dua bagian. Namun, bila anda ingin membaca secara bertahap tanpa perlu bolak-balik membuka web ini, anda dapat men-download artikel ini di Google Drive atau Dropbox. Bagian kedua dapat anda baca di sini. Selamat membaca.

Pendahuluan

Sejak Konsili Vatikan II, Misa Kudus telah menjadi korban dari berbagai jenis kekacauan. Isu ini telah banyak didiskusikan dari berbagai perspektif, tetapi dalam artikel ini kami akan memeriksa aspek yang sebelumnya telah ditolak dari situasi ini – yaitu, alasan-alasan psikologis mengapa imam-imam memasukkan perubahan-perubahan ke dalam Misa Kudus. Kami tidak akan membahas tentang penjelasan teologis mengapa Misa menjadi subjek eksperimen liturgis, kami tidak akan membahas alasan-alasan liturgis untuk inovasi-inovasi tersebut. Sebaliknya, kami akan fokus pada psikologi imam dan orang-orang yang membantu dalam liturgi, yaitu pada motif-motif psikologis yang berbeda dari penalaran teologis dan liturgis.

Kami mengajukan bahwa motivasi utama di balik banyaknya perubahan dalam liturgi ini berasal dari motif-motif narsistik yang mendasar – yaitu, cinta pada diri yang ekstrim – yang ditemukan pada banyak orang dalam budaya kontemporer sekarang ini. Hal ini terutama adalah kasus berkaitan dengan perubahan-perubahan yang relatif kecil yang diperkenalkan dalam sebuah cara idiosinkratik ke dalam Misa Kudus. Kami pertama-tama merangkum dan menggambarkan sifat narsisme ini, lalu menerapkannya kepada situasi yang ditemukan di antara para imam. Continue reading