Kerendahan Hati : Pelajaran dari Bilbo Baggins

Bilbo Baggins

Tanggal 14 Desember film The Hobbit mulai diputar di bioskop. The Hobbit awalnya merupakan sebuah novel yang ditulis oleh J.R.R Tolkien, seorang penulis novel yang juga menulis The Lord of The Rings, novel yang sangat katolik walaupun unsur kekatolikannya tidak akan bisa dilihat secara langsung.

Nah, kali ini saya akan membahas tentang tokoh utama The Hobbit, Bilbo Baggins, dan apa yang kita bisa pelajari darinya. Sebagai pengantar, akan saya buka refleksi kita dengan tulisan berkut :

 “We all, like Frodo, carry a Quest, a Task: our daily duties. They come to us, not from us. We are free only to accept or refuse our task- and, implicitly, our Taskmaster. None of us is a free creator or designer of his own life. “None of us lives to himself, and none of us dies to himself” (Rom 14:7). Either God, or fate, or meaningless chance has laid upon each of us a Task, a Quest, which we would not have chosen for ourselves.We are all Hobbits who love our Shire, or security, our creature comforts, whether these are pipeweed, mushrooms, five meals a day, and local gossip, or Starbucks coffees, recreational sex, and politics. But something, some authority not named in The Lord of the Rings (but named in theSilmarillion), has decreed that a Quest should interrupt this delightful Epicurean garden and send us on an odyssey. We are plucked out of our Hobbit holes and plunked down onto a Road.” – Peter Kreeft

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kutipan tersebut dan hubungannya dengan film The Hobbit :

  1. Kita semua memiliki perjalanan dan tugas kita sendiri : kewajiban sehari-hari kita. Mereka datang pada kita, bukan berasal dari kita. Kita hanya diberikan pilihan untuk menerima atau menolaknya, termasuk menolak Ia yang memberikan-Nya. Seperti Bilbo, ia yang pada awalnya tidak menginginkan petualangan, namun akhirnya menerimanya dengan semangat
  2. Sama seperti Bilbo, kita tentu tidak mau menempuh perjalanan dengan masa depan yang tak pasti, meninggalkan semua kenyamanan kita. Tapi ada kalanya bahwa petualangan atau perjalanan ini memang sudah direncanakan oleh-Nya, untuk mengajarkan kita sesuatu. Kita ditarik, dari tempat tinggal kita yang nyaman dan aman, menuju sebuah jalan yang tidak aman dan tidak pasti.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari petulangan ini? Berikut ini adalah makna dan tujuan yang tersembunyi dibaliknya : Continue reading

Advertisements