Kami Tahu bahwa Kesaksiannya itu Benar

The Tears of St Peter by Georges de la Tour 1645

Dixit Iesus Petro: Sequere me. Conversus Petrus vidit illum discipulum, quem diligebat Iesus, sequentem, qui et recubuit in cena super pectus eius, … Hic est discipulus ille, qui testimonium perhibet de his, et scripsit hæc: et scimus, quia verum est testimonium eius.(Dari Injil Yohanes 21 : 19-20,24: Yesus berkata pada Petrus : ‘Ikutilah Aku’. Petrus berbalik, melihat murid yang mencintai Yesus mengikuti Dia, yang juga bersandar di dada-Nya pada perjamuan Terakhir…Inilah murid yang memberikan kesaksian tentang hal-hal ini, dan telah menuliskannya, dan kami tahu bahwa kesaksiannya itu benar.”)

Sekolah iman bukanlah gerakan baris berbaris penuh kemenangan melainkan perjalanan sehari-hari yang ditandai dengan penderitaan dan kasih, pencobaan dan kesetiaan. Petrus, yang menjanjikan kesetiaan absolut, menyadari kepahitan dan penghinaan karena penyangkalan : pria arogan ini belajar pelajaran kerendahan hati dengan harga yang mahal. Petrus juga, harus belajar bahwa ia lemah dan membutuhkan pengampunan.

Ketika sikapnya berubah dan ia menyadari kebenaran akan hatinya yang lemah sebagai seorang pendosa yang beriman, ia menangis dalam kelayakan akan pertobatan yang membebaskan. Setelah tangisan ini, ia akhirnya siap untuk misi yang disediakan baginya.

Pada suatu pagi di musim semi, misi ini akan dipercayakan padanya oleh Kristus yang bangkit. Pertemuan ini terjadi di tepi danau Tiberias. Yohanes Penginjil mencatat percakapan antara Yesus dan Petrus. Terdapat suatu permainan kata yang memiliki makna yang sangat penting.

Dalam bahasa Yunani, kata “fileo” berarti kasih [dalam konteks] persahabatan, lembut tetapi tidak menyeluruh; sedangkan kata “agapao” berarti kasih tanpa batas, total dan tak bersyarat. Yesus bertanya pada Petrus pertama kali : “Simon…apakah kau mengasihiku (agapas-me)” dengan kasih yang total dan tak bersyarat ini (Yoh 21:15)?

Sebelum peristiwa pengkhianatan, Sang Rasul pasti akan berkata :”Aku mengasihimu (agapo-se) tanpa syarat”. Sekarang ia telah mengenal kesedihan yang pahit akan ketidaksetiaan, drama akan kelemahannya sendiri, ia berkata dengan kerendahan hati :”Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihimu (filo-se), yaitu, “Aku mengasihi-Mu dengan kasih manusia yang berkekurangan”. Kristus mendesak : “Simon, apakah kamu mengasihi aku dengan kasih yang total, yang aku inginkan?” Dan Petrus mengulangi jawabannya yang menunjukkan kasihnya yang rendah hati :”Kyrie, filo-se”, “Tuhan, aku mengasihi-Mu sejauh aku mampu untuk mengasihi-Mu”. Ketiga kalinya Yesus hanya berkata pada Simon :”Fileis-me?”, “Apakah kamu mengasihiku?”

Simon memahami bahwa kasihnya yang miskin ini cukup bagi Yesus, hanya ini yang mampu Ia lakukan, namun ia bersedih hati ketika Tuhan berbicara kepadanya dalam cara ini. Ia karenanya menjawab :”Tuhan, Engkau mengetahui segalanya; Engkau tahu bahwa Aku mengasihi-Mu (filo-se)” Hal ini berarti bahwa Yesus menempatkan dirinya setingkat dengan Petrus, dan bukannya Petrus yang menyetarakan dirinya dengan Yesus! Konformitas ilahi inilah persisnya yang memberikan pengharapan kepada Sang Murid, yang mengalami rasa sakit karena ketidaksetiaan.

Dari sini lahirlah kepercayaan yang menjadikannya mampu mengikuti Kristus sampai akhir :”Ini ia katakan untuk menunjukkan oleh kematian seperti apa ia harus memuliakan Allah. Dan setelah ini Ia berkata padanya “Ikutilah Aku”” (Yoh 21:19)

Sejak hari itu, Petrus “mengikuti” sang Tuan dengan kesadaran yang tepat akan kerapuhannya sendiri, tetapi pemahaman ini tidak mematahkan semangatnya. Melainkan, ia tahu bahwa ia dapat bergantung pada kehadiran Ia yang bangkit yang ada di sebelahnya.

Benediktus XVI

24 Mei 2006

Gambar : The Tears of St. Peter by Georges de la Tour, 1645.

Advertisements

Pada Kayu Salib, Seseorang Belajar tentang Cinta.

Pada kayu salib,

Seseorang belajar tentang cinta,

Cinta yang tak terbalaskan cinta,

Cinta yang dibalas dengan luka

Pada kayu salib,

Seseorang belajar tentang cinta,

Cinta yang memberi diri hingga mati,

Cinta yang tak mempedulikan harga diri

Pada kayu salib, aku bertanya

Kenapa cinta ditakdirkan bersatu dengan Engkau, hai salib yang suci?

Kenapa cinta melekat erat dengan pengorbanan?

Kenapa cinta bersahabat dengan kerapuhan?

To love at all is to be vulnerable…

“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one. Lock it up safe in the casket of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. The alternative to tragedy, or at least to the risk of tragedy, is damnation. The only place outside of Heaven where you can be perfectly safe from all the dangers and perturbations of love is Hell.To love is to be vulnerable.” – C.S. Lewis (The Four Loves)

Sumber Gambar

True Love : What Should We Know about It.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan… (1 Kor 13 : 4-8)

14 Februari adalah hari Valentine atau hari kasih sayang dimana manusia saling mengekspresikan cintanya melalui berbagai bentuk, entah itu coklat, puisi, mawar serta berbagai ungkapan cinta lainnya. Namun sayangnya hari kasih sayang ini tidak diikuti dengan pemahaman yang tepat akan cinta, khususnya cinta yang sejati. Bukan tidak mungkin bahwa hari Valentine dijadikan sebagai ajang untuk mengumbar nafsu seksual di berbagai belahan dunia lain. Oleh karena itulah, maka saya akan sedikit membagi insight yang saya dapatkan dari buku yang berjudul Love and Reponsibility by Karol Wojtyla. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda

Loving VS Using

Lawan dari cinta bukanlah benci, melainkan memanfaatkan. Ketika individu memanfaatkan kekasihnya sebagai objek untuk suatu tujuan yang bersifat seksual dan emosional, maka sebenarnya apa yang ia cari hanyalah kenikmatan yang diperoleh dari sebuah cinta yang semu. Inilah bahaya dari hedonisme dan utilitarianisme, dimana kenikamatan dijadikan sebagai suatu prinsip utama dalam kehidupan yang harus dicari dan dikejar. Sebuah ideologi yang bila diperiksa lebih lanjut, mengajarkan suatu perilaku untuk mencari apa yang terlihat baik, benar dan indah, bukan mencari apa yang sungguh baik, benar dan indah. Suatu ideologi yang merendahkan martabat seorang manusia.

Berbicara tentang cinta selalu identik dengan perasaan. Apa yang kita rasakan awalnya berasal dari indra serta persepsi kita terhadap diri seseorang, yang kemudian diproses secara kognitif dan melibatkan emosi. Tapi cinta sejati bukan sekedar perasan. Perasaan, seberapapun besar atau kuatnya, sama sekali bukanlah ukuran dari cinta yang sejati. Jadi apa itu cinta sejati? Mari kita mengeksplorasi lebih lanjut tentang ini. Continue reading