Rahmat yang Menyembuhkan Luka

“Satu-satunya jawaban terhadap hilangnya kasih didunia ini adalah perolehan kasih dalam dunia adikodrati. Bila anda menginginkan kasih yang tidak membiarkan anda jatuh, kasih yang dapat menyembuhkan hal-hal yang menyakitkan di masa lalu anda, kasih itu dapat ditemukan dalam Kristus dan dalam Allah, dan dalam Roh Kudus. Kasih itu dapat menyembuhkan.” – Prof. Paul Vitz

Sebagai seorang mahasiswa psikologi yang mempelajari tentang perilaku manusia dan proses mental yang mendasarinya, dan juga sebagai seorang katolik yang belajar teologi, semakin saya menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh. Namun, di saat yang sama, ilmu pengetahuan yang saya pelajari sempat memberikan semacam optimisme yang menggebu-gebu: bahwa saya bisa mengubah orang lain.

Dorongan untuk mengubah orang lain menjadi lebih baik, lebih sehat dan fungsional secara psikis dan rohani, berawal dari pengamatan sederhana terhadap orang-orang di sekitar saya: bahwa keluarga dan teman-teman saya memiliki sisi yang rentan terhadap kerusakan. Bahkan, ada beberapa aspek dalam diri mereka yang memang sudah “rusak”. Namun, apa yang menyedihkan bagi saya adalah adanya orang-orang yang tidak menyadari bahwa mereka itu “sakit”, juga kesadaran bahwa “kerusakan” yang mereka rasakan berawal dari sebuah pengalaman masa lalu yang pahit dan getir: entah itu karena dosa yang dilakukan orang tua atau lingkungan (teman-teman, guru, pacar, dsb) terhadap seseorang.

Dulu, berbekal ilmu psikologi yang membantu saya dalam memahami pribadi saya, saya sangat ambisius untuk mengubah salah seorang anggota keluarga saya. Sayangnya, saya harus berhadapan dengan fakta yang membuat saya marah, kecewa dan tidak berdaya: saya tidak mampu mengubah seseorang yang sangat dekat dengan saya. Tentu, ada banyak faktor yang mempengaruhi mengapa perubahan sangat sulit terjadi, tetapi yang ingin saya tuliskan disini beranjak dari kegagalan saya. Ternyata, bukan orang lain yang harus berubah, melainkan perubahan sejati harus berasal dari dalam diri saya.

Dosa asal dan akibatnya membuat manusia sangat rapuh dan berada dalam kondisi di mana manusia tidak memiliki relasi yang harmonis antara dirinya dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita berjuang untuk mengembalikan keharmonisan yang telah hilang ini? Apa yang perlu saya lakukan agar saya bisa berubah, secara khusus berubah menjadi pribadi yang dapat membantu orang lain, terlepas apakah orang itu dapat berubah atau tidak? Continue reading

Advertisements