Yang Terakhir dari Bapa

“Ego te absolvo a pecatta tuis : in nomine patris et filii et spiritus sancti. Amen.”

Itulah absolusi terakhirnya yang ia berikan padaku

Lalu ia membuka kedua telapak tanganku, dengan ibu jarinya yang gemetar, ia ukirkan dua tanda salib kecil pada tiap telapak, berkata

“Inilah berkat terakhir ku yang kuberikan padamu”

Dihadapan ia yang tua digerogoti usia,

aku berlutut,

kepalaku tertunduk,

tanda salib yang sama ia torehkan di dahiku

“Tuhan Yesus mencintaimu, nak”

Dalam diam kuberikan satu pelukan terakhir, menemani kepergiannya.

“Bapa, ingatlah aku, saat kau tiba dalam kerajaan-Nya”

Sekarang ia hanyalah seonggok daging tak berjiwa yang duduk

tertunduk

Sesegeranya aku keluar dari kamar kejujuran itu, desiran angin dengan terburu-buru menghembuskan kabar kematiannya.

Mendadak gereja menjadi ramai penuh sesak

Dan aku?

Malam itu, kutinggalkan gereja tua itu,

berjalan sambil menengadah ke langit,

mengijinkan hujan menjelma air mata,

dan bersembunyi bersama rintik hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s