Mengacaukan Misa – Masalah Narsisme Imamat Masa Sekarang

Tulisan berikut merupakan terjemahan artikel yang dilakukan oleh teman saya, blogger Indonesian Papist, disini saya gabungkan bagian pertama dan kedua dalam satu postingan. Selamat membaca.

Pengantar Terjemahan

Artikel ini berisi tinjauan psikologis atas sifat narsistik dari banyak imam terkait dengan berbagai pelanggaran-pelanggaran Liturgi yang seringkali terjadi karena inisiatif para imam tersebut. Artikel ini ditulis oleh Prof. Paul C. Vitz, seorang psikolog Katolik, bersama dengan puteranya, Diakon Daniel C. Vitz, IVE. Artikel ini memang ditulis dalam konteks imam-imam Katolik di Amerika Serikat; tetapi, ketika anda membaca isinya anda akan melihat bahwa hal yang sama juga terjadi di Indonesia baik dalam contoh yang sama maupun contoh yang berbeda sehingga artikel ini juga sesuai dengan konteks di Indonesia. Karena artikel ini sangat panjang, publikasi artikel ini dibagi menjadi dua bagian. Namun, bila anda ingin membaca secara bertahap tanpa perlu bolak-balik membuka web ini, anda dapat men-download artikel ini di Google Drive atau Dropbox. Bagian kedua dapat anda baca di sini. Selamat membaca.

Pendahuluan

Sejak Konsili Vatikan II, Misa Kudus telah menjadi korban dari berbagai jenis kekacauan. Isu ini telah banyak didiskusikan dari berbagai perspektif, tetapi dalam artikel ini kami akan memeriksa aspek yang sebelumnya telah ditolak dari situasi ini – yaitu, alasan-alasan psikologis mengapa imam-imam memasukkan perubahan-perubahan ke dalam Misa Kudus. Kami tidak akan membahas tentang penjelasan teologis mengapa Misa menjadi subjek eksperimen liturgis, kami tidak akan membahas alasan-alasan liturgis untuk inovasi-inovasi tersebut. Sebaliknya, kami akan fokus pada psikologi imam dan orang-orang yang membantu dalam liturgi, yaitu pada motif-motif psikologis yang berbeda dari penalaran teologis dan liturgis.

Kami mengajukan bahwa motivasi utama di balik banyaknya perubahan dalam liturgi ini berasal dari motif-motif narsistik yang mendasar – yaitu, cinta pada diri yang ekstrim – yang ditemukan pada banyak orang dalam budaya kontemporer sekarang ini. Hal ini terutama adalah kasus berkaitan dengan perubahan-perubahan yang relatif kecil yang diperkenalkan dalam sebuah cara idiosinkratik ke dalam Misa Kudus. Kami pertama-tama merangkum dan menggambarkan sifat narsisme ini, lalu menerapkannya kepada situasi yang ditemukan di antara para imam.

Narsisme Orang Amerika

Pada permulaan tahun 1970an, sejumlah kritikus sosial utama mencatat dan mengkritik karakter negara ini (Amerika Serikat) yang semakin narsis – yaitu sibuk pada diri sendiri. Artikel Tom Wolfe “The Me Decade” (Dekade “Aku”) membuka kritik ini dan banyak orang lainnya mengikuti kritik ini. Mungkin, pembahasan paling ekstensif adalah The Culture of Narcissism oleh Christopher Lasch. Buku kritik panjang yang pertama mengenai Narsisme Orang Amerika ditulis oleh salah seorang penulis artikel ini (Paul C. Vitz), Psychology as Religion: The Cult of Self-Worship(1977, 1994). Paul C. Vitz secara eksplisit membahas signifikansi anti-Kristen dasar dari narsisme kultural zaman sekarang. Habits of the Heart: Individualism and Commitment in American Life karya Robert Bellah dkk pada tahun 1985 melanjutkan kritik-kritik ini. Kami secara singkat merangkum poin-poin kunci yang dibuat oleh para penulis ini untuk memungkinkan wawasan-wawasan mereka diterapkan kepada psikologi banyak imam-imam Amerika.

Lasch menekankan pada penurunan “citarasa terhadap masa sejarah” (p.1). Narsisme sebagai sebuah kerangka kerja (framework) mental lebih mudah terjadi pada individu-individu dan masyarakat-masyarakat ketika mereka tidak lagi terhubung terhadap masa lampau. Adalah masa lampau yang menyediakan sebuah kerangka kerja untuk menilai tingkah laku kontemporer baik atau tidak baik, layak atau tidak layak, tradisional atau baru. Masa lampau historis, dengan para pahlawan dan pelajaran-pelajarannya, adalahlink bagi setiap pribadi kepada tradisi-tradisi keluarga dan kultural. Masa lampau historis (the historical past) menyediakan norma-norma tingkah laku dan struktur-struktur moral. Lasch menjelaskan bahwa ketika masa lampau telah memudar dari hati nurani orang-orang Amerika, kapasitas untuk pemanjaan diri narsistik (narcissistic self-indulgence) telah bertumbuh secara substansial.

Lasch juga menunjukkan bagaimana masyarakat Amerika mulai kehilangan kepercayaan diri akan masa depan – sesuatu yang benar-benar terjadi di Eropa. Penolakan akan masa depan ini mulai menyebar pada tahun 1960an dengan ketakutan akan ledakan penduduk (overpopulation). Banyak orang mulai menggagas “zero population growth” dan menganggap bahwa masa depan dunia akan lebih baik dengan jauh lebih sedikit manusia. Juga terjadi kehilangan harapan akan masa depan kemanusiaan dan organisasi-organisasi sosial tradisional. Fenomena yang sama ini segera tampak sehubungan dengan budaya barat (Western Culture) secara umum termasuk bangsa Amerika. Kritik-kritik modern terhadap masyarakat barat sebagai yang eksploitif, imperialistik, dan bahkan inferior secara budaya menyebar di antara komunitas-komunitas intelektual Amerika Serikat dan Eropa. Dari kampus-kampus, universitas-universitas dan seminari-seminari kami; pandangan ini menyebar menjadi sesuatu yang umum di antara para profesional Amerika, atau kelas masyarakat “yang memerintah” (“governing” class). Kritik terkait agama sendiri muncul pada saat yang sama dan di tempat yang sama. Sains, teknologi, dan kehidupan sekuler (duniawi) umumnya dipandang sebagai sesuatu yang diinginkan dan tidak terelakkan; sementara itu agama – dianggap bagian dari budaya Barat yang memalukan – ditakdirkan untuk menghilang. Kekristenan dalam berbagai bentuk yang dikenali itu dinilai sebagai sesuatu yang tidak memiliki masa depan. Menghilangnya harapan untuk masa depan di semua bidang ini  bersamaan dengan menurunnya keyakinan akan relevansi tradisi, berarti bahwa “sekarang / now” adalah hal yang paling penting. Setelah dipisahkan dari masa lalu dan memiliki keyakinan yang kecil akan masa depan, kita telah membiarkan masa sekarang mendominasi hati nurani kita.

Ada banyak contoh dari keasyikan terhadap masa kini – “sekarang / now” – dengan mengorbankan pelajaran-pelajaran dari masa lalu dan perhatian akan masa depan. Masyakarat konsumer, dengan obsesinya akan konsumsi dan dorongannya untuk menanggung utang dengan mengabaikan konsekuensi-konsekuensi di masa depan mungkin adalah contoh yang paling jelas. Glorifikasi/pemuliaan atas kepuasan seksual sementara dan kesenangan-kesenangan pancaindera adalah contoh umum lain dari fokus khusus kontemporer pada “masa sekarang”. Industri hiburan memberi makan – dan terus memberi makan – keasyikan terhadap masa kini. Pola pikir ini mempromosikan narsisme karena pribadi-pribadi, yang dulunya begitu setia pada tradisi mereka dan sadar akan masa depan mereka, saat ini telah memiliki batasan-batasan yang melekat pada pemanjaan diri dan kepuasan pribadi. Orang-orang seperti itu lebih memilih mengambil kepuasan pribadi daripada melanjutkan masa lalu yang mengagumkan dan memproyeksikan masa lalu yang mengagumkan tersebut dalam cara yang positif menuju sebuah masa depan yang penuh harapan. Singkatnya, “sekarang” dan narsisme berjalan beriringan.

Paul C. Vitz mengidentifikasi “psikologi diri” (self-psychology) dari Carl Rogers dan Abraham Maslow dan psikolog-psikolog lainnya sebagai faktor penyebab utama, khususnya dalam keasyikan psikologis dengan aktualisasi diri (self-actualization) dan pemenuhan diri (self-fulfillment). Paul C. Vitz juga menunjukkan bagaimana narsisme psikologis ini berubah menjadi penekanan New Age pada narsisme spiritual: “Ketika saya berdoa, saya berdoa kepada diri saya sendiri.” Diri sendiri, bagi banyak orang, telah menjadi pusat mutlak (absolute center) dari nilai-nilai dan keasyikan-keasyikan. Sikap ini adalah sebuah bentuk penyembahan berhala, secara jelas berkaitan dengan kejahatan tradisional berupa keangkuhan dan kesombongan, yang diringkas dengan tepat dalam godaan yang sungguh-sungguh kuno (Godaan ular terhadap Hawa)  – “Kamu akan menjadi seperti Tuhan.” Tentu saja, sebagian besar narsisis-narsisis Amerika tidak melangkah terlalu jauh, tetapi ada godaan yang kuat bagi individu-individu masa sekarang untuk setuju dengan motto Burger King –“Have it your way” / “Terserah Anda”.

Narsisme yang dibahas oleh Lasch difokuskan ulang oleh karya terkenal Bellah dkkHabits of the Heart. Buku ini terutama mengidentifikasi individualisme orang Amerika dan diri pribadi yang otonom sebagai budaya penyebab yang mendasari fragmentasi sosial Amerika, kesendirian dan keterasingan pribadi. Meskipun individualisme orang Amerika bukanlah hal yang sungguh sama dengan narsisme – dalam beberapa hal, individualisme orang Amerika lebih moderat – Bellah dkk menyimpulkan “pada akhirnya, hasil individualisme adalah sama” seperti narsisme atau egoisme. Bellah setuju dengan Lasch bahwa dengan individualisme, “orang-orang masa sekarang ‘melupakan nenek moyang mereka’, tetapi keturunan-keturunan mereka juga mengisolasi diri mereka dari orang-orang sezaman mereka.”

Narsisme Tipe Psikologis Umum

Rangkuman sebelumnya telah menginterpretasikan narsisme dalam kerangka kerja kultural atau sosial. Namun, definisi psikologis dari narsisme juga relevan. Narsisme klinis yang asli (genuine clinical narcissism), seperti gangguan kepribadian narsistik (NPD – Narcissistic Personality Disorder) adalah gangguan utama yang relatif jarang dan tidak menjadi perhatian di artikel ini. Sebaliknya, fokus kami adalah pada sifat narsis yang lebih moderat yang ditemukan pada banyak individu sekarang ini. Lima karakteristik relevan, semuanya adalah bagian dari gangguan kepribadian narsistik sebagaimana yang digambarkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: Fourth Edition (DSM-IV-R) description of NPD.

1. Ingin dikagumi secara berlebihan, dengan karakter ini seorang narsisis menjadi sangat sensitif (memiliki sensitivitas yang ekstrim) pada kritik terhadap dirinya yang dapat membawanya kepada penarikan diri sosial atau perendahan diri. Seringkali karakter ini dikaitkan dengan perilaku-perilaku mencari perhatian yang terlihat jelas. Sifat narsistik ini seringkali ditemukan pada mereka yang memperkenalkan dan berpartisipasi dalam inovasi-inovasi Liturgi.

2.  Perasaan bahwa dirinya memiliki hak, yaitu karakter narsistik berupa ekspektasi-ekspektasi yang tak masuk akal akan perlakuan yang menyenangkan dan persetujuan otomatis dari orang lain atas saran-saran atau harapan-harapannya. Sebuah sikap “aturan-aturan tidak berlaku untuk saya” datang bersamaan dengan perasaan memiliki hak ini – sebagai contoh:  “rubrik-rubrik (pedoman) Misa tidak benar-benar mengharuskan saya untuk mengikutinya.”

3. Keyakinan bahwa mereka superior, spesial atau unik.  Karakter narsistik ini mengharapkan orang lain mengakui hal ini: bahwa mereka (yang meyakini diri mereka superior, spesial dan unik) hanya perlu bergaul dengan orang yang spesial atau memiliki status tinggi. Bagi para imam, karakter ini dapat ditunjukkan dengan kebutuhan-kebutuhan ekstrim untuk bergaul dengan klerus-klerus tingkat tinggi (misalkan paus dan uskup) atau dengan para ahli-ahli liturgi.

4. Arogan serta perilaku dan sikap yang angkuh. Para imam menunjukkan karakter narsistik ini dalam gaya (style) liturgis mereka atau inovasi dan kreativitas mereka atau ketika mereka dikritik karena inovasi-inovasi tersebut. Sikap seperti ini seringkali mendasari asumsi para imam bahwa mereka memiliki hak untuk mengubah Liturgi.

5. Kurangnya empati, yaitu karakter narsistik berupa keengganan untuk mengakui atau mengenali perasaan dan kebutuhan orang-orang lain. Karakter ini seringkali ditunjukkan dengan memandang rendah atau kemarahan kepada siapapun yang tidak setuju akan perubahan-perubahan dalam Liturgi yang mereka lakukan yang mana seringkali perubahan-perubahan tersebut malah tidak memiliki dukungan hukum liturgis dan kanonis yang nyata.

Semua karakter di atas tidak harus muncul pada setiap individu untuk mengetahui dengan jelas kepribadian narsistik secara umum. Tetapi karakter apapun dari daftar karakter ini yang muncul dengan ekstrim atau 2 atau lebih dari daftar karakter ini muncul sudah cukup untuk mengenali sebuah tipe narsistik.

Ekspresi-ekspresi Narsisme Klerikal Katolik

Lasch, Vitz, dan Bellah tidak pernah menyentuh Gereja Katolik dalam karya-karya yang dikutip di atas, tetapi poin-poin mereka diterapkan pada situasi Gereja di Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir. Dengan mengesampingkan isu-isu teologis penting yang mendasar, kita bisa melihat motif psikologis yang begitu mengakar di balik imam-imam Amerika yang “mengindividualkan” Misa-misa Kudus yang mereka rayakan, menempatkan “stempel pribadi” mereka pada Liturgi. Imam-imam ini bermain cepat dan longgar dengan rubrik-rubrik Misa, mengubah Kata Pengantar yang singkat setelah Salam Pembuka – sebagaimana yang ditetapkan oleh Pedoman Umum Misale Romawi – menjadi homili yang lain. Beberapa imam bahkan mengindividualkan doa konsekrasi dan dalam berbagai cara lainnya berusaha untuk menyesuaikan Liturgi Ilahi yang suci dengan selera dan pandangan mereka sendiri.

Banyak perubahan ini telah lama diatributkan kepada “Semangat Vatikan II”. Tetapi – poin kami – faktanya adalah bahwa semangat narsistik dan sekuler masa kini berada di balik kekacauan-kekacauan liturgis ini. Semangat sekuler ini, sebagaimana digambarkan oleh Lasch, adalah pemanjaan diri (self-indulgent) dan mengutamakan diri (self-aggrandizing) secara eksplisit. Dasar pemikiran dari orang-orang yang “mempersonalisasikan” Liturgi adalah jelas menolak sejarah dan tradisi Gereja – seperti masyarakat secara umum telah menolak masa lampaunya. Hal ini dengan mudah dilihat pada pengabaian yang sering terjadi bahkan peremehan secara eksplisit terhadap tradisi liturgis Gereja oleh mereka yang seharusnya paling setia kepada Gereja – para imam.

Pelanggaran-pelanggaran Liturgi ini juga mencerminkan keterputusan yang nyata dengan masa depan Kristiani. Masa depan adalah fokus utama dari Liturgi bila dipahami dengan benar. Liturgi mencerminkan kerinduan bertemu Allah yang kita harapkan dapat terwujud pada saat kematian kita. Tetapi mungkin bahkan lebih penting lagi adalah Misa memperingatkan kita tentang Penghakiman Terakhir yang akan dialami oleh seluruh umat manusia. Pada intinya, Liturgi Suci adalah ekspresi dari harapan akan masa depan dan manifestasi duniawi dari tujuan utama kita – surga. Misa Kudus membawa kita keluar dari masa kini (the present) dan memberikan kepada kita kesadaran akan tradisi-tradisi panjang Gereja yang mendahului kita. Sayangnya, umat pada kebanyakan liturgi masa sekarang meninggalkan Misa Kudus dengan sedikit kesadaran akan makna liturgi baik bagi masa lampau Gereja dan masa depan abadi umat. Misa Kudus sekarang menjadi sekadar pengalaman emosional sementara dan dengan mudah dilupakan.

Fokus umum zaman sekarang pada “menjadi relevan” adalah artikulasi langsung dari membuat fokus Misa pada “sekarang / now” dengan pengabaian serius terhadap dari mana Misa Kudus berasal dan ke mana Misa Kudus membawa kita. Untuk “menjadi” relevan” berarti terlibat pada masa sekarang, umumnya dengan mengorbankan masa lampau maupun masa depan. Faktanya, banyak inovator akan berargumen bahwa sebuah “liturgi yang relevan” adalah liturgi yang berbicara kepada orang-orang “sekarang / now” daripada liturgi yang menjadi sebuah point rujukan yang tetap di tengah dunia yang berubah dan membingungkan. “Sekarang / now” juga adalah ekspresi dari keasyikan narsistik. Memang, sulit untuk menguraikan hubungan antara narsisme dan “liturgi yang relevan”: berfokus pada “sekarang” melahirkan narsisme, dan narsisme menciptakan keasyikan terhadap “relevan” dan “sekarang”. Kita beralih sekarang kepada beberapa contoh dari tesis kami.

Pada tahun 1990, Thomas Day, dalam Why Catholic Can’t Sing, memberikan beberapa contoh jelas dari fenomena narsistik dalam Liturgi Katolik – sebuah fenomena yang ia sebut “Pembaharuan Ego”.

“Hari ini adalah Kamis Putih dan kami berada pada Misa malam yang agung di sebuah paroki di mid-western. Momen tiba kepada imam selebran Misa, Sang Pastor, untuk membasuh kaki dari 12 orang umat, sama seperti Kristus membasuh kaki Para Rasul pada Perjamuan Terakhir. Selama upacara yang mengharukan ini, paduan suara menyanyikan motet dan bergantian dengan umat yang menyanyikan himne. Akhirnya, bagian dari Liturgi ini tidak lama lagi berakhir ketika imam membasuh kaki terakhir. Musik berakhir, anda hampir dapat merasakan bahwa umat ingin menangis karena sukacita. Lalu, Romo Hank (demikian imam tersebut ingin dipanggil) berjalan menuju mikrofon, tersenyum dan berkata, “Wah, itu sangat bagus! Mari berikan tepuk tangan untuk 12 umat ini.”

Umat tertegun dan agak enggan memberikan applaus dengan pelan. Romo Hank melanjutkan aksinya … Satu demi satu, Romo Hank turun ke baris 12 umat tadi; setiap orang mendapatkan komentar singkat dan applaus. Dengan tindakan keluar jalur tersebut, Romo Hank terlihat puas dengan dirinya sendiri, melanjutkan liturgi. Sementara itu, umat terlihat jengkel, merenungkan berbagai cara menahan diri.

Ini adalah sebuah contoh narsistik “mempersonalisasikan” Liturgi dan Thomas Day menunjukkan bahwa kelucuan Romo Hank – jauh dari sikap tidak mementingkan diri sendiri – secara fundamental dimaksudkan untuk menarik perhatian kepada dirinya sendiri. Setiap psikolog akan menyadari ketidaknyamanan yang mendasari Romo Hank dan kebutuhannya akan penegasan pribadi (personal affirmation) dan kita dapat melihat psikologi yang sama ini dalam skala yang lebih kecil ketika imam yang merayakan Misa meninggalkan panti imam untuk berjabat tangan dengan umat selama Salam Damai, atau mengangguk dan senang-tangan (glad-hands) menerobos umat selama masa hening layaknya dia seorang politisi lokal yang berjalan ke kantornya. Thomas Day menampilkan kesadaran narsisme yang akut yang mendasari banyak permasalahan liturgis, dan seperti yang dicatat, dengan tepat menyebutnya sebagai “Pembaharuan Ego”. Hal yang serupa, contohnya nyata dari mempersonalisasikan Liturgi dengan cara yang akan mengurangi makna spiritualitas yang terjadi pada Misa besar, dihadiri oleh penulis junior artikel ini (Diakon Daniel C. Vitz, IVE), yang mana selebran utama Misa Kudus memperkenalkan setiap pribadi dari 20 orang lebih konselebran pada pembukaan Misa Kudus, mengajak umat bertepuk tangan untuk setiap konselebran saat konselebran tersebut diperkenalkan.

Dengan pengecualian-pengecualian yang jarang, memasukkan applaus (tepuk tangan) ke dalam Misa Kudus adalah gambaran dari kebutuhan ego seorang atau banyak imam yang memodelkan Misa dalam pertunjukan bisnis atau dalam pertunjukan (demonstrasi) dukungan emosional yang mengorbankan Kristus dan sikap penghormatan yang pantas.

Jangan pembaca berpikir bahwa contoh yang dikutip berasal dari 1980an atau 1990an; di sini adalah sebuah contoh tahun 2006 dari keuskupan yang cukup besar yang diberitakan pada bulan Januari 2007 di First Things. Sebuah “Misa Halloween” di sebuah paroki yang tidak akan kami sebutkan namanya “menampilkan musisi berpenampilan setan dan orang-orang dalam kostum setan membagikan Ekaristi. Saya berhenti menyaksikan video Misa Kudus yang tersebar luas ini pada sebuah titik ketika pastor mendaraskan Doa Bapa Kami dengan kata-kata “As goblins and ghouls, …” (keduanya adalah karakter setan). Dan saya melewatkan bagian di mana, sesuai yang diberitakan, pastor tersebut menampilkan dirinya sebagai dinosaurus ungu Barney saat menutup perayaan Misa.”

Poin-poin narsistik yang jelas adalah bahwa Misa Kudus ini divideokan untuk disebarluaskan dan pastor tersebut muncul dengan kostum dinosaurus yang sangat disukai oleh media. Tentu saja ada juga sebuah tema yang lebih jahat dalam “penampilan” ini – orang dapat menunjukkan hubungan antara narsisme dan bidaah (yaitu menggabungkan Misa Kudus dengan budaya Halloween yang menyesatkan).

Sebagian besar perubahan dan penambahan ke dalam Misa Kudus tidaklah panjang lebar atau jelas bagi umat yang duduk di bangku seperti contoh-contoh di atas. Namun demikian, perubahan dan penambahan tersebut dapat mengganggu dan sama-sama tidak sehat secara teologis. Pada satu kesempatan penulis junior (Diakon Daniel C. Vitz, IVE) mendengar bahwa kata-kata konsekrasi telah diubah oleh imam selama Misa harian di sebuah katedral utama. Setelah Misa Kudus, ia datang kepada imam itu dan dengan sopan bertanya tentang perubahan-perubahan tersebut dan imam itu memberitahu ia bahwa hal itu semua adalah “hanya hal kecil yang selalu saya lakukan.”

Contoh lain terjadi ketika imam yang sama itu memodifikasi kata-kata Misa Kudus sehingga umat kehilangan bagiannya dan tidak menyadari isyarat untuk mengatakan tanggapan yang sesuai. Contoh yang lain lagi dalam Misa Kudus melibatkan seorang imam yang menghafal Injil setiap minggu dan kemudian menyampaikan Injil yang ada di ingatannya ketimbang membaca Injil langsung. Kebaruan ini tentu saja menarik perhatian kepada imam dan banyak orang kehilangan pesan Injil dengan berkonsentrasi pada penampilan sang imam. Demikian juga, seorang imam dilaporkan kepada kami memantomimkan (kata dasar pantomim) homili dan sekali lagi menarik perhatian yang tidak seharusnya kepada dia dan penampilannya. Meneladani pengabaian diri dan kerendahan hati dari pribadi Kristus adalah penawar untuk kecenderungan-kecenderungan buruk ini.

Kaum awam juga direkrut untuk narsisme pada masa sekarang. Misa Kudus disajikan sebagai perayaan kaum beriman yang berkumpul ketimbang perayaan kehadiran Kristus dalam Ekaristi (Kurban Kudus Misa). Hal ini adalah bagian dari motivasi di balik keinginan kaum awam mendapat applaus atau pujian. Mungkin contoh narsisme yang paling jelas saat kaum awam mendukung perayaan Misa Kudus terjadi di ranah “pelayanan musik”. Thomas Day memberi fokus utama pada aspek ini dalam bukunyaWhy Catholics Can’t Sing; salah satu aspek penting dari fenomena ini adalah memindahkan koor dari loteng koor (lantai atas khusus koor yang biasanya terdapat di bagian belakang gedung Gereja) ke daerah panti imam atau bagian depan di mana mereka dapat “menampilkan / perform” dengan lebih baik kepada umat sehingga dapat dilihat dan diberi applaus. Memang, ada pandangan yang berkembang bahwa musik dalam Misa Kudus lebih merupakan sebuah penampilan / performance daripada hal yang lain.

Salah satu hasil yang tak terduga dari tindakan imam menyesuaikan Liturgi – mengubah Liturgi seturut otoritas mereka sendiri untuk disesuaikan dengan kegemaran khusus mereka – adalah bahwa kaum awam kadang-kadang atau malah sering ikut-ikutan menyesuaikan Liturgi. Mentalitas konsumer Amerika “have it your way” tersedia bagi kaum awam, bukan hanya bagi para imam. Bila setiap imam menjadi seperti Paus yang dapat menyesuaikan Liturgi, mengapa tidak setiap kaum awam menjadi seperti paus juga? Ketika imam berkata, “Tuhan sertamu.”, apa yang akan menghentikan umat di bangku berkata, “Saya tahu itu, Amin”? Kaum awam memiliki kebutuhan narsistik mereka yang dapat dengan mudah ditunjukkan sendiri dengan cara yang mengganggu dalam Misa Kudus. Beberapa narsisme kaum awam sudah muncul dalam cara mereka sering bersikeras mengendalikan Misa dan doa-doa saat pernikahan atau pemakaman (seperti meminta atau memaksa koor harus menyanyikan lagu pop dan non-liturgis dalam Misa pernikahannya). Pelayanan pernikahan dan pemakaman ini semakin disesuaikan/dikustomisasi oleh desakan kaum awam.

Penting bagi para imam untuk mengingat bahwa banyak umat Katolik datang ke Misa Kudus untuk bertemu Yesus Kristus, dan bukan datang untuk berkontak dengan psikologi khusus selebran Misa. Umat datang ke Misa Kudus untuk sesuatu yangtidak hadir (not present) dalam budaya populer – yaitu citarasa akan kesakralan dan pengakuan tentang perlunya kerendahan hati. Kita datang ke Misa Kudus ingin ditarik lebih dalam dan lebih dekat kepada Kristus dan surga.

Mengingat kecenderungan “pembaharuan ego”, pemanjaan diri dan pengutamaan diri, para imam dan seminaris harus dibuat sadar akan bahaya memasukkan personalitas/kepribadian seseorang ke dalam Liturgi. Kecenderungan ke arah narsisme perlu diatasi terutama dalam konteks Misa Kudus yang dirayakan versus populum – menghadap umat. Terlepas dari pandangan terkait kelebihan masing-masing dari perayaan Misa Kudus secara ad deum (mengarah kepada Allah) atau secara versus populum (menghadap umat), ada sedikit pertanyaan bahwa godaan untuk menampilkan diri jauh lebih besar ketika selebran Misa menghadap umat. Kardinal Arinze, dulunya Prefek Kongregasi Peribadatan Ilahi dan Disiplin Sakramen berkomentar tentang isu ini, “Bila imam tidak sungguh disiplin, ia akan segera menjadi seorang penampil/performer. Dia mungkin tidak menyadari hal itu, tapi dia akan memproyeksikan dirinya sendiri daripada memproyeksikan Kristus.”

Karena kebutuhan narsistik banyak imam berada di balik perubahan-perubahan aneh dan individual dalam Liturgi, sekarang saatnya faktor-faktor non-teologis dan dianggap tidak menarik ini diakui secara luas di seminari-seminari Katolik dan di komunitas Katolik pada umumnya. Kami akan memberikan kata-kata penutup dari Kardinal Arinze tentang masalah ini. Beliau berkata bahwa Liturgi “bukanlah milik seorang individu, oleh karena itu individu tersebut tidak boleh bermain-main dengan hal itu.”

Professor Paul C. Vitz menerima gelar Ph.D. dalam psikologi dari Universitas Stanford (1962) dan telah bertahun-tahun menjadi professor psikologi di Universitas New York di mana Beliau sekarang ada professor emeritus (pensiun). Sekarang, Beliau adalah Professor/Cendikiawan Besar di Institute for the Psychological Sciences di Arlington. Institusi ini menawarkan program yang memberikan gelar Doktor Psikologi di psikologi klinis. Program ini melatih psikolog-psikolog dalam perspektif Katolik. Dia dan istrinya tinggal di Manhattan, memiliki 6 orang anak.

Diakon Daniel C. Vitz, IVE adalah seorang seminaris sebuah tarekat baru IVE (Instituto del Verbo Encarnado) yang sedang studi imamat di seminari Amerika di Maryland. Beliau asli dari New York, mantan perwira angkatan laut dan putra tertua dari pasangan Paul dan Evelyn Vitz. Beliau ditahbiskan menjadi diakon pada 31 Mei 2013 oleh Kardinal Theodore McCarrick.

Terjemahan bebas dari:

www.catholicculture.org – Messing with the Mass: The Problem of Priestly Narcissism Today

Diterjemahkan oleh:

www.indonesianpapist.com

pax et bonum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s