Manusia adalah Pengemis dihadapan Allah

Bacaan Hari Rabu, 27 November 2013

Bacaan I – Dan. 5:1-6,13-14,16-17,23-28;

Bacaan Injil – Luk. 21:12-19

Bacaan hari ini menampilkan dua sisi pengalaman manusia yang saling bertolak belakang : Pada bacaan pertama, kita melihat bagaimana Raja Belsyazar dengan segala kekayaannya menyembah harta bendanya, bersenang-senang dan berpuas diri dengan harta duniawi, sehingga Allah memperingatkan mereka dengan sebuah tulisan di dinding Istana bahwa apa kepemilikan mereka akan berakhir, dan kisah ini berakhir dengan terbunuhnya Raja Belsyazar.

Bacaan kedua menguraikan tentang Kristus yang berbicara kepada dua belas rasul, bahwa mereka akan disiksa dan dipenjara (Luk 21:12), dikhianati oleh keluarga, saudara dan teman serta beberapa diantara mereka akan dihukum mati (16), kebencian terhadap mereka karena nama Yesus pun menjadi bagian dari hidup mereka (18). Namun toh mereka akan memperoleh hidupnya kembali.

Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan ini?

Sejak kejatuhan manusia pertama, kodrat manusia menjadi rapuh dan condong ke arah yang jahat. Hasrat manusia menjadi tidak teratur dan egois, membuatnya sulit untuk tunduk kepada akal budi, dan akal budi sulit untuk taat pada pengetahuan akan Allah.

Realita ini dapat dengan mudah menjadikan manusia pribadi yang egois dan mudah ditipu. Egois, karena ia hanya ingin memberi makan hasrat yang terpendam dalam dirinya. Ia mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan jiwanya, dan melekatkan diri kepada keduniawian yang dianggap segalanya. Mudah ditipu, karena saat ia memuaskan hasratnya, ia akan terus mencari pemuasan itu sampai pada titik dimana ia melupakan Allah. Manusia tertipu karena Ia menganggap pemberian Allah sebagai allah itu sendiri, dan karenanya Allah menjadi terlupakan.

Merupakan hal yang manusiawi bila manusia memiliki keinginan dan memintanya kepada Allah. Namun kenyataan ini seharusnya mengarahkan kita kepada kebenaran yang mendasar : bahwa manusia adalah pengemis dihadapan Allah (St. Augustinus). Kita juga perlu menyadari bahwa terpisah dari Allah, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah langkah pertama menuju kerendahan hati. Kerendahan hati inilah yang perlu dimiliki manusia untuk menundukkan keinginan-keinginannya, agar keinginan dan hasrat manusia dimurnikan dan dibebaskan dari segala hal yang egois.

Kita perlu belajar dari para rasul, yang meninggalkan semua miliknya, memikul salib, dan mengikuti Yesus. Mereka adalah pengemis dihadapan Allah. Mereka tersiksa dan teraniaya di mata dunia, namun di mata Allah, mereka telah berjuang dengan baik, dan Allah tidak meninggalkan mereka. Pada akhirnya, Allah akan memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan (Mzm 149), dan keselamatan inilah yang sedang kita perjuangkan juga di dunia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s