Proses ‘Menemukan’ Panggilan

Tampaknya tulisan ini menjadi tulisan pertama saya yang membicarakan sesuatu yang sangat pribadi di blog ini. Walaupun sejak awal saya tidak berniat menuliskan hal-hal yang personal, namun akhirnya saya memutuskan menuliskan pengalaman saya karena pengalaman ini erat berhubungan dengan tema blog ini, psikologi katolik.

Pagi ini saya menemukan tulisan berjudul On Finding Vocation. Membaca tulisan tersebut, saya terbawa ke masa lalu dimana orang tua saya (secara khusus, mama saya) pernah mengajukan pertanyaan berikut : “Kamu mau jadi apa setelah lulus kuliah nanti?”

Sejujurnya saya terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan itu. Saya merasa bahwa saya terpanggil untuk menjadi psikolog dan teolog, tetapi saat itu saya tidak segera menjawab pertanyaan itu, melainkan saya berkata “Nanti kuberitahu kalau aku sudah membuat keputusan”.

Setelah pengalaman itu, maka saya mulai mengawali proses discernment untuk menemukan panggilan saya. Saat itu, saya mulai berdoa. Saya meminta tanda, dan jawaban, ke mana saya akan melangkah nanti. Apa sesungguhnya panggilan saya?

Cukup lama saya tenggelam dalam pertanyaan itu, sampai pada suatu hari, setelah saya mengaku dosa kepada bapa pengakuan saya, Romo Laton, saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan :”Romo, bagaimana saya bisa mengetahui bila saya terpanggil untuk menjadi imam?” (Please, jangan tanya mengapa saya malah menanyakan hal yang berhubungan dengan panggilan imamat, tetaplah membaca)

Kemudian beliau menjelaskan secara singkat ajaran Gereja tentang panggilan. Dari penjelasannya itu, ada satu perkataannya yang membuat saya merasa bahwa ini adalah jawaban awal dari Tuhan (kira2 beginilah perkataannya) :

Orang yang terpanggil itu artinya orang yang mau mengikuti Kristus. Mengikuti Kristus berarti mau memikul salib. Sebenarnya, setiap pilihan memiliki salibnya masing-masing. Masalahnya, apakah kamu memiliki keinginan yang sangat kuat, bahwa tak peduli seberat apapun salib yang kamu miliki, kamu akan setia berada di jalan yang kamu pilih…jangan mencoba untuk menjadi imam kalau kamu masih ragu.

Oke, jadi diantara kedua pilihan itu tidak ada pilihan yang bebas dari salib. Satu beban telah terangkat. Pertanyaan selanjutnya, pada salib yang mana saya mampu untuk setia? Mungkinkah saya mampu memikul salib yang menjadi panggilan saya, ketika saya hanya sendirian memikul salib saya selama ini? (Jawaban untuk pertanyaan ini (semoga) akan dilanjutkan pada tulisan selanjutnya, teruslah membaca)

Kembali kepada artikel On Finding Vocation. Tampaknya ini adalah jawaban selanjutnya dari proses discernment saya :

My trouble, lately, is with the word we choose to talk about vocation, with “find.” This implies a completeness, a stopping point. If I find something, I no longer have to search for it. I no longer have to ask about it or wonder about it. It’s there; it’s with me; it’s . . . found. And once something is found, what is left?

For a long time, I relied upon the language of finding. I have to find it, I would say, and I proceeded as if finding a vocation was like playing hide and seek. I find it, and the game is over. I find it, I would think to myself, and a lot of questions and confusion would clear up. It would be lovely and obvious: here is what you will do for the rest of your life. Here is what will bring you money and happiness and a sense of completeness.  

Kedua kutipan diatas membuka mata saya terhadap kebenaran yang selama ini sangat dekat, tapi tak terlihat: bahwa saya telah menemukan panggilan, yaitu untuk menjadi psikolog dan teolog. Panggilan ini telah ada dalam diri saya, tetapi saya sibuk mencarinya keluar dari diri sendiri.

Artikel tersebut ditutup dengan kalimat berikut :

Vocation, I’ve realized, is a much more fluid thing. Discovering a vocation is to discover what I want to spend the rest of my life trying to be good at. Discovering my vocation is to discover that which I will never truly find, the thing that will continue to fascinate me, continue to haunt me, continue to challenge me, continue to invite me to further sacrifice, further joy, further darkness, further mystery. My vocation, or vocations, will demand more from me than I thought I could give, and because of this, my vocation will be the source of the energy and creativity I give to the world.

Vocation is not an arrival, but a departure. It is not a finishing, but a beginning.

“Vocation is a beginning.” And here comes the problem : di lubuk hatiku, saya merasa ada keraguan. Akar masalahnya adalah saya ragu terhadap diri sendiri. Keraguan ini selalu muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah saya mampu menjalani keputusan yang akan saya ambil?”,”Bagaimana kehidupan saya nantinya?” dst dst

Setiap orang pernah mengalami keraguan. Saya kira, keraguan berasal dari hasrat manusia untuk memahami kebenaran dengan pasti. Dalam lubuk hatinya, manusia merindukan “happy ending” yang nyata. Manusia perlu merasa pasti akan masa depannya, bahwa semuanya berakhir bahagia, bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa ia harus memastikan semua berjalan dan berakhir bahagia.

Kenyataannya, masa depan adalah misteri. Manusia tidak akan pernah bisa mengetahui akhirnya sebelum ia menapaki jalan yang terbentang dihadapannya. Saya sangat suka ungkapan puitis yang ditulis oleh Soe Hok Gie :

‘hidup adalah soal keberanian,
menghadapi tanda tanya
tanpa kita bisa mengerti , tanpa kita bisa menawar
terimalah , dan hadapilah’

Ungkapan diatas menyarankan manusia yang merasa ragu untuk berani menghadapi dan menerima hidup yang selalu dipenuhi tanda tanya. Tapi itu saja tidak cukup. Keraguan memang dapat menjadi stumbling blocks bagi manusia, dan disinilah teologi memberikan jawaban yang dapat menjadikan keraguan itu sebagai stepping stones yang semakin menguduskan manusia.

Gereja Katolik memberikan jawaban, bahwa iman dan pengharapan kepada allah adalah sesuatu yang pasti. Iman bahwa dimana Allah memimpin, Ia akan menyediakan. Pengharapan bahwa tangan Allah yang maha baik akan mengarah pada tujuan akhir yang bahagia, walaupun manusia tidak dapat memahami jalan menuju ke sana.

Dalam menjalankan panggilan yang akan dipilih, saya yakin kesulitan utamanya adalah saat manusia harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya. Apa yang harus dilakukan ketika apa yang terjadi bertentangan dengan keinginan saya, sedangkan saya senantiasa berusaha memenuhi kehendak Allah dalam hidup saya? Paus Benediktus XVI memberikan jawaban yang sederhana, namun terasa indah dan mendalam :

Selanjutnya, saya ingin mengatakan, bahwa pertama-tama, apa yang perlu bagi kita semua adalah menyadari keterbatasan-keterbatasan kita, dengan rendah hati menyadari bahwa kita harus meletakkan banyak hal di tangan Tuhan. Hari ini, kita mendengar dalam Injil perumpamaan tentang Hamba yang Setia (bdk Mat 24:42-51). Hamba ini, seperti dikatakan Tuhan kepada kita, memberi makan kepada orang lain pada waktu yang tepat. Ia tidak melakukan segalanya sekaligus tetapi dengan bijaksana dan hati-hati tahu apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu. Ia melakukan dengan kerendahan hati dan juga yakin dengan kepercayaan tuannya. Itulah yang harus kita lakukan : melakukan semampu kita dengan bijaksana dan hati-hati dan percaya pada kebaikan dari “Tuan” kita

Kita perlu mempercayakan diri kepada-Nya, sambil memiliki harapan bahwa kesulitan dan salib dalam menjalani suatu panggilan adalah proses pemurnian, yang bertujuan menguduskan manusia. Untuk itu, diperlukan kerendahan hati dalam melakukannya.

“Hati kami gelisah sampai kami beristirahat dalam Engkau”, kata St. Augustinus. Seseorang yang terus merasa ragu, akan terus merasakan kegelisahan yang membuat tubuh dan jiwanya semakin lelah. Namun Yesus juga berkata “Datanglah kepadaku, kamu semua yang letih, lesu dan berbeban berat, aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. Karenanya, undangan untuk meletakkan banyak hal dalam tangan Tuhan, merupakan tawaran agar manusia datang kepadanya, menyerahkan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, sekalipun keraguan itu mungkin belum akan hilang sepenuhnya.

Saya rasa, itulah jawaban teologis dari keraguan yang dihadapi saya dan banyak orang lainnya, yang mungkin masih mempertanyakan panggilannya. Panggilan apapun yang akan dijalani, dan salib seperti apapun yang akan dihadapi, pada dasarnya manusia harus menyerahkan diri dan menempatkan banyak hal di tangan Tuhan.

Banyak hal yang bisa dijelaskan tentang harapan, kepercayaan, iman, kerendahan hati dan penyerahan diri kepada Penyelenggaraan Ilahi. Tapi saya harus mengakhiri tulisan ini sampai disini, semoga ada kesempatan untuk menulis tentang pengharapan dan penyelenggaraan ilahi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s