Mencinta Hingga Terluka

Bacaan hari Rabu, 6 November 2013

Roma 13 : 8-10

8. Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. 9. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! 10. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Lukas 14 : 25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

———-

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.”Maz 51 : 5

Kedua bacaan hari ini berbicara tentang kasih dan mengikuti Kristus. Kita tahu bahwa hukum yang utama adalah mengasihi Allah, dan juga sesama. Namun, mengapa Kristus berkata bahwa untuk menjadi murid-Nya kita harus membenci bapa, ibu, suami, istri dan saudara-saudari kita? Mengapa kita harus memikul salib untuk mengikuti Dia? Apakah ini berarti Allah menghendaki manusia menderita?

Kita adalah manusia yang mengalami salah satu akibat dosa asal : kecenderungan untuk berdosa. Kerapuhan manusia membuat dirinya terhalang untuk mencintai dengan sempurna. Kasih memang tidak berbuat jahat kepada sesama, tetapi kehidupan mengajarkan bahwa manusia hidup dalam lingkungan yang saling melukai satu sama lain.

Pribadi yang mencintai adalah pribadi yang terbuka pada penderitaan. Keberdosaan manusia membuat dirinya tidak pernah lolos dari dosa, dari luka yang ditimbulkan oleh orang lain.  Luka yang dialami seseorang dapat begitu menyakitkan, sehingga kita merintih kepada Allah; “mengapa saya harus menderita seperti ini?” Luka ini juga dapat membutakan kita, menyebabkan kita merasa diri sebagai orang yang paling menderita, sebagai korban atas kejahatan orang lain. Padahal, bila kita jujur pada diri sendiri, kita pun juga melukai orang lain dan membuat mereka merasa menderita sama seperti kita.

Salib adalah jalan cinta menuju Allah. Manusia membutuhkan salib, karena salib memurnikan manusia dari segala kelekatan terhadap hal-hal duniawi. Allah hanya menghendaki diri kita, namun dalam kerapuhan manusia ada berbagai macam dorongan, hasrat, bahkan juga orang-orang yang menghambat jalan kita menuju Sang Cinta itu sendiri. Ikatan terhadap hal-hal duniawi ini terkadang begitu kuat sehingga upaya untuk membebaskan diri darinya terasa menyakitkan.

Oleh karena itu, penting sekali menyadari bahwa semua manusia adalah pendosa, bahwa cinta tidak selalu dibalas dengan cinta, dan cukup sering balasan dari cinta adalah salib. Cinta tidak pernah berpisah dengan salib, karena inilah kehendak Kristus : bahwa manusia harus mengasihi dalam penderitaan.

“Karena tidak ada cinta tanpa penderitaan, karena cinta selalu menuntut unsur pengorbanan diri,” – Paus Emeritus Benediktus XVI

Dan itulah yang Yesus lakukan : mencinta hingga terluka. Beranikah kita mengikuti-Nya?

Advertisements

One thought on “Mencinta Hingga Terluka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s