Mengapa Psikologi Saja Tidaklah Memadai

Suatu ketika saya sedang mencari artikel yang membahas psikologi dalam perspektif iman katolik, dan saya menemukan sebuah artikel yang berjudul Beyond Psyhology, ditulis oleh Paul Vitz, seorang profesor psikologi. Artikel tersebut sebenarnya membahas tiga hal, yaitu tentang self-esteem dan psikoterapi, dan bagaimana psikologi tidak mampu memberikan jawaban terhadap masalah penderitaan manusia. Saya menyarankan anda untuk membaca artikel lengkapnya.

Pada bagian artikel itu, ada satu bagian yang menjabarkan dengan baik mengapa ilmu psikologi tidaklah cukup dalam menjawab pertanyaan psikologis, dan jawaban yang ada hanyalah jawaban teologis. Sebenarnya saya sendiri sudah berencana untuk menuliskan hal ini, namun akhirnya saya memutuskan untuk menerjemahkan sebagian dari artikel tersebut. Berikut ini adalah terjemahan bagian yang relevan :

Banyak orang menderita karena abuse atau ketiadaan kasih ketika mereka masih muda. Tidak ada keraguan akan hal ini. Sebagian besar hal yang telah melukai kita adalah ketika orang-orang tidak mengasihi. Dan hal ini dapat sangat menyakitkan bagi anak-anak bila persoalan ini serius dan berulang. Dan dalam psikoterapi terkadang anda tiba pada pemahaman yang lebih baik terhadap masa lalu yang abusive. Seseorang dapat memiliki pemahaman tentang itu.Mereka dapat menjadi katarsis dalam mengungkapkan apa yang terjadi. Tapi fakta mendasarnya adalah ini : Bila seseorang gagal mendapatkan kasih yang mereka perlukan ketika mereka muda, tidak mungkin seorang psikoterapis dapat menggantikan kasih itu.

Tidaklah mungkin, sejam dalam seminggu ketika seorang pasien berusia 25 dan seorang terapis berusia 25, anda dapat menciptakan kembali dalam cara apapun kasih yang tidak didapatkan oleh seorang ayah atau ibu. Bila ayah adalah seorang pemabuk dan pulang ke rumah dan memukul pasien, dan mereka sangat menderita karena ini dan anda telah menemukan hal ini dan membicarakan tentangnya, lubang di hati pasien tetap ada. Anda tidak dapat memenuhinya dengan psikologi. Jadi mereka memiliki masalah psikologis tanpa jawaban psikologis. Mereka adalah korban dosa. Mereka telah memiliki pemahaman tentang hal itu. Mereka telah membayar harga dari dosa itu dalam penderitaan mereka tetapi anda tidak bisa memperbaikinya, sebagai seorang psikolog. Jelas sekali bahwa seorang psikolog tidak bisa memberikan kasih yang cukup kepada mereka.

Tetapi, siapakah yang bisa memberikan kasih kepada mereka? Tuhan kita dapat memberikannya. Satu-satunya jawaban terhadap hilangnya kasih didunia ini adalah perolehan kasih dalam dunia supernatural. Bila anda menginginkan kasih yang tidak membiarkan anda jatuh, kasih yang dapat menyembuhkan hal-hal yang menyakitkan di masa lalu anda, kasih itu dapat ditemukan dalam Kristus dan dalam Allah, dan dalam Roh Kudus. Kasih itu dapat menyembuhkan.

Sekarang terhadap satu sumber penderitaan yang besar yang dimiliki manusia, selain menjadi korban dosa. Dan ini adalah bentuk penderitaan yang sangat diperhatikan Kristus, setidaknya sama-sama diperhatikan setara dengan yang lain. Kita semua telah melukai dan menyakiti orang lain. Dan kita telah menempatkannya diluar pikiran kita. Anda akan terkejut tentang berapa banyak orang tua yang sungguh memukul anak mereka, namun mereka sama sekali tidak memiliki ingatan tentang itu.

Anda akan terkejut melihat berapa banyak hal-hal yang menyakitkan yang anda alami dalam kehidupan anda, dan orang yang melakukannya melupakan hal itu dalam lima menit. Dan itu berarti anda telah melakukan hal yang sama, melupakan apa yang telah anda lakukan kepada orang lain… Kita juga lebih menyadari ketika kita disakiti daripada ketika kita menyakiti orang lain. Namun bila kita jujur dengan diri kita sendiri, yang merupakan suatu hal yang baik seperti AA (Alcoholic Anonymous) , anda menyadari bahwa anda telah melukai orang lain dan hal ini disebut rasa bersalah yang nyata.

Ada juga rasa bersalah neurotis, orang-orang yang merasa bersalah tentang hal-hal yang tidak mereka lakukan. Kita semua tahu bahwa, dan salah satu fungsi seorang psikolog adalah membantu orang-orang melihat rasa bersalah neurotis mereka. Saya memiliki pasien yang mengalaminya, rasa bersalah neurotis yang irasional. Tetapi, ada juga rasa bersalah yang nyata, bila kita jujur. Kita telah melukai orang lain dan dalam prosesnya terkadang juga melukai diri sendiri. Dan anda tidak bisa mengampuni diri sendiri walaupun anda mendengar orang lain mengklaimnya dalam dunia kristiani.

Ada dua alasan untuk hal itu. Pertama, bila anda dapat mengampuni diri sendiri atas dosa-dosa anda, mengapa Yesus datang ke dunia? Kedua, apa yang anda pikirkan tentang kriminal yang berkata,”Saya mengampuni diri saya karena membunuh anda.” Anda tidak bisa mengampuni diri sendiri bila anda memiliki integritas dan kejujuran. Anda harus menyadari bahwa anda, kenyataannya, bersalah terhadap apa yang telah anda lakukan. Dan Kristus datang untuk membebaskan kita dari rasa bersalah itu. Jadi, ketika kita melukai orang lain, termasuk diri kita, seorang psikolog tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Inilah yang dikatakan Freud. “Merupakan hal yang absurd bila saya berkata pada klien,’Saya, Sigmund Freud, mengampunimu dari dosa-dosamu’”. Dan Freud benar. Merupakan hal yang absurd bagi terapis untuk berkata pada klien,”Saya mengampunimu dari dosa-dosamu.”Beberapa terapis kristiani mengklaim mereka dapat melakukannya. Tetapi sebagai imam, sebagai Kristus yang lain, anda secara eksplisit memiliki kuasa dan kemampuan untuk mengampuni dosa. Anda tidak secara personal mengampuni pribadi itu. Tidak, tetapi dalam nama Kristus anda mengampuninya, seperti yang saya pahami, anda memiliki kuasa mengampuni mereka dari dosanya Dan itu artinya anda bisa membebaskan mereka dari dosa-dosa yang mereka lakukan terhadap orang lain. Sebagian besar dari kita hanya berpikir tentang orang-orang yang berdosa terhadap kita. Itulah arti dunia yang penuh rasa kasihan-terhadap diri, dan dunia si korban. Berapa banyak orang yang melakukan kesalahan terhadap anda? Tetapi ada banyak juga orang yang telah berdosa terhadap orang lain dan itu termasuk kita. Bila anda sungguh jujur terhadap diri anda sendiri.

Freud benar. Psikoterapis tidak bisa mengampuni orang lain.Orang yang anda lukai dapat mengampuni anda bila anda dapat berbicara kepada mereka, tetapi seringkali mereka ada di lokasi yang sangat jauh, atau telah meninggal, atau  tak terjangkau. Anda tidak bisa mengampuni diri sendiri. Pengampunan-diri saya lihat sebagai bentuk lain dari preokupasi Amerika dengan sejenis keselamatan-diri. Anda tidak memerlukan Allah sekarang, anda dapat melakukannya sendiri. Hal ini cukup populer terutama di kalangan Kristen.

Sekarang, terdapat tempat yang sah bagi penerimaan diri, menerima kelemahan anda, keterbatasan anda, dst. Tapi itu tidak sama – penerimaan diri tidak sama dengan pengampunan diri. Ketika anda memiliki dosa yang nyata dalam suara hati anda, anda meminta Allah mengampuni anda, dan sebagai imam katolik, anda memiliki kemampuan untuk menjalankan hal tersebut.

Ringkasnya, psikologi dapat berguna, membantu, sampai pada tahap moderat. Tetapi dua bentuk penderitaan terbesar : dosa terhadap kita dan dosa yang kita lakukan pada orang lain; penderitaan karena kehilangan kasih dan penderitaan dari rasa bersalah yang nyata, disini, secara prinsip, psikologi tidak bisa memberikan sebuah jawaban.

Psikolog tak berdaya dalam menghadapi dua sumber penderitaan yang mendalam itu. Seseorang yang berseru demi kasih karena ayah mereka tidak memberikannya, memukul mereka ketika mereka masih anak-anak. Anda merasakannya, tetapi tidak dapat memperbaikinya. Kasih Kristus lah yang dapat melakukannya. Dan kita menemukan orang-orang hancur dengan rasa bersalah mereka, mereka telah membunuh orang. Di New York, mereka tersebar di semua tempat. Atau mereka telah melakukan hal sejenis kepada yang lain. Dan bila mereka berani dan jujur untuk menghadapinya, mereka menjerit, mereka ingin kelegaan. “Tapi hanya Allah yang bisa mengampuni mereka, dan saya asumsikan bahwa terkadang orang diampuni oleh Allah tanpa imam sebagai perantara. Tapi pekerjaanmu, fungsimu, sebagai imam, adalah untuk mengampuni mereka. Ini adalah jawaban mendalam untuk masalah psikologis akan rasa bersalah. Rasa bersalah adalah bentuk penderitaan psikologis yang tidak memiliki jawaban psikologis. Kesimpulannya, dalam kedua bentuk penderitaan manusia, kasih orang tua yang tak memadai dan rasa bersalah yang nyata, psikologi tidak memiliki jawaban dan anda memilikinya. Terima kasih.

Advertisements

One thought on “Mengapa Psikologi Saja Tidaklah Memadai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s