Seperti apa Salib Kepunyaanku?

Artikel ini saya rencanakan terdiri dari beberapa bagian, karena topik ini bagi saya sangat menarik untuk dibahas secara mendalam. Untuk bagian pertama ini, saya akan memulainya dengan kutipan berikut :

SJW 1

“Maka Yesus berkata kepada para murid : Siapapun yang hendak mengikuti aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti aku”- Yesus Kristus

Yesus meminta kita untuk memikul salib kita. Apa yang sebenarnya perlu kita ketahui tentang salib?

Ada sebuah cerita. Suatu ketika seseorang protes kepada Allah dan berkata “salibku ini terlalu berat, aku tidak menginginkannya”. Ia sangat keras kepala sehingga Allah berkata,”baiklah, silakan kamu pilih salib yang ingin kamu pikul disana”. Ia pun segera melihat salib yang berukuran kecil, dan ketika ia hendak mengambilnya, Allah berkata “Tetapi itu salib yang baru saja kau tinggalkan!”

Uskup Agung Fulton Sheen berkata bahwa salib setiap orang diciptakan secara unik sesuai dengan kemampuan individu untuk memikulnya, oleh karena itu, tidaklah bijak bila kita membandingkan salib kita dengan orang lain, karena kita tidak tahu seperti apa beban yang harus dipikul orang itu.

Quote 1

Lalu, dimanakah kita dapat mencari salib kepunyaan kita? Saya teringat sebuah perkataan bijak berikut :

“Kita tidak seharusnya mencari salib dalam penderitaan yang luar biasa, kita harus mencarinya dalam kewajiban, kehidupan, kesulitan-kesulitan, dan pengorbanan di setiap hari dan setiap waktu” – Father Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.

Rasanya kutipan diatas sudah memberikan gambaran umum tentang kondisi atau situasi dimana kita dapat menemukan salib yang harus kita pikul.

Nah, lalu seperti apa salib kepunyaan kita? Father Andrew Apostoli memberikan beberapa petunjuk yang lebih konkret :

  • Salib kita dapat kita rasakan secara fisik, misalnya sebuah penyakit terminal. Santo Yohanes Vianney pernah berkata kepada seorang sakit,”Apakah engkau ingin kusembuhkan?” Jawabnya adalah, “Bapa, bila dengan tersembuhkan maka saya dapat berbuat dosa, maka saya memilih untuk tetap menderita sakit seperti ini”. Kisah tersebut mengajarkan kita bahwa salib juga dapat memurnikan kita (Hal ini dibahas di artikel lain)
  • Salib kita juga bisa merupakan sesuatu yang bersifat emosional, misalnya rasa takut (takut tidak dicintai, dihargai, dst), kecemasan, depresi, kesendirian, iri hati, nafsu, dsb. Bisa juga kelemahan-kelemahan yang sedang kita perjuangkan untuk mengatasinya menjadi salib yang harus dipikul.
  • Persoalan spiritual pun bisa menjadi salib. Misalnya seseorang yang mengalami masa-masa rohani yang kering, tidak merasakan kehadiran Allah, menganggap Allah meninggalkan dan tidak mencintai kita. Hal ini dirasakan oleh Ibu Teresa selama puluhan tahun, dan tentu ini sangat berat untuk dijalani walaupun rahmat juga semakin berlimpah bila kita menjalaninya sesuai kehendak-Nya.
  • Keluarga pun juga bisa menjadi salib kita, misalnya bila kita memiliki luka batin karena perlakuan buruk dari orang tua atau saudara. Luka ini tidak mudah disembuhkan, sedangkan kita memiliki kewajiban mencintai mereka. Tentu sulit mencintai seseorang yang kita pikir juga pernah melukai kita. Atau, konflik antara suami-istri, orang tua dan anak, keluarga dan keluarga lainnya juga dapat menjadi salib.
  • Konflik di tempat kerja, kesulitan komunikasi, serta masalah sehari-hari lainnya juga dapat menjadi sumber slaib
  • Dalam skala yang lebih besar, salib dapat berupa perang, bencana alam, terorisme, dsb.

Nah, karena Yesus meminta kita memikul salib kita masing-masing, apakah ini berarti Allah menghendaki kita untuk menderita? Artikel selanjutnya akan mengulas hal tersebut.

Advertisements

One thought on “Seperti apa Salib Kepunyaanku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s