Mengapa Psikologi Saja Tidaklah Memadai

Suatu ketika saya sedang mencari artikel yang membahas psikologi dalam perspektif iman katolik, dan saya menemukan sebuah artikel yang berjudul Beyond Psyhology, ditulis oleh Paul Vitz, seorang profesor psikologi. Artikel tersebut sebenarnya membahas tiga hal, yaitu tentang self-esteem dan psikoterapi, dan bagaimana psikologi tidak mampu memberikan jawaban terhadap masalah penderitaan manusia. Saya menyarankan anda untuk membaca artikel lengkapnya.

Pada bagian artikel itu, ada satu bagian yang menjabarkan dengan baik mengapa ilmu psikologi tidaklah cukup dalam menjawab pertanyaan psikologis, dan jawaban yang ada hanyalah jawaban teologis. Sebenarnya saya sendiri sudah berencana untuk menuliskan hal ini, namun akhirnya saya memutuskan untuk menerjemahkan sebagian dari artikel tersebut. Berikut ini adalah terjemahan bagian yang relevan :

Banyak orang menderita karena abuse atau ketiadaan kasih ketika mereka masih muda. Tidak ada keraguan akan hal ini. Sebagian besar hal yang telah melukai kita adalah ketika orang-orang tidak mengasihi. Dan hal ini dapat sangat menyakitkan bagi anak-anak bila persoalan ini serius dan berulang. Dan dalam psikoterapi terkadang anda tiba pada pemahaman yang lebih baik terhadap masa lalu yang abusive. Seseorang dapat memiliki pemahaman tentang itu.Mereka dapat menjadi katarsis dalam mengungkapkan apa yang terjadi. Tapi fakta mendasarnya adalah ini : Bila seseorang gagal mendapatkan kasih yang mereka perlukan ketika mereka muda, tidak mungkin seorang psikoterapis dapat menggantikan kasih itu. Continue reading

Advertisements

Seperti apa Salib Kepunyaanku?

Artikel ini saya rencanakan terdiri dari beberapa bagian, karena topik ini bagi saya sangat menarik untuk dibahas secara mendalam. Untuk bagian pertama ini, saya akan memulainya dengan kutipan berikut :

SJW 1

“Maka Yesus berkata kepada para murid : Siapapun yang hendak mengikuti aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti aku”- Yesus Kristus

Yesus meminta kita untuk memikul salib kita. Apa yang sebenarnya perlu kita ketahui tentang salib?

Ada sebuah cerita. Suatu ketika seseorang protes kepada Allah dan berkata “salibku ini terlalu berat, aku tidak menginginkannya”. Ia sangat keras kepala sehingga Allah berkata,”baiklah, silakan kamu pilih salib yang ingin kamu pikul disana”. Ia pun segera melihat salib yang berukuran kecil, dan ketika ia hendak mengambilnya, Allah berkata “Tetapi itu salib yang baru saja kau tinggalkan!”

Uskup Agung Fulton Sheen berkata bahwa salib setiap orang diciptakan secara unik sesuai dengan kemampuan individu untuk memikulnya, oleh karena itu, tidaklah bijak bila kita membandingkan salib kita dengan orang lain, karena kita tidak tahu seperti apa beban yang harus dipikul orang itu.

Quote 1

Lalu, dimanakah kita dapat mencari salib kepunyaan kita? Saya teringat sebuah perkataan bijak berikut :

“Kita tidak seharusnya mencari salib dalam penderitaan yang luar biasa, kita harus mencarinya dalam kewajiban, kehidupan, kesulitan-kesulitan, dan pengorbanan di setiap hari dan setiap waktu” – Father Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.

Rasanya kutipan diatas sudah memberikan gambaran umum tentang kondisi atau situasi dimana kita dapat menemukan salib yang harus kita pikul.

Nah, lalu seperti apa salib kepunyaan kita? Father Andrew Apostoli memberikan beberapa petunjuk yang lebih konkret :

Continue reading

Quotes on Doing God’s Will

I got these quotes from Papa Benedict’s book : Light of The World. It inspires and gives me strength to do God’s will, which often contrary to my will. It’s hard to do something you don’t want, something that is beyond your capabilities. Sometimes we need encouragement in order to trust God’s plan for us. I do hope these quotes will help us to be the faithful servant, to renew our “fiat” everyday, to entrust ourself to God’s loving hand, so in the end God will say ‘Well done, good and faithful servant!’

“What are you doing with me? Now the responsibility is yours. You must lead me! I can’t do it. If you wanted me, then you must also help me!” In this sense, I stood, let us say, in an urgent dialogue relationship with the Lord: if he does the one thing he must also do the other.

For I see very well that almost everything I have to do is something I myself cannot do at all. That fact already forces me, so to speak, to place myself in the Lord’s hands and to say to him: “You do it, if you want it!” In this sense prayer and contact with God are now even more necessary and also even more natural and self-evident than before.

It is like this: When a man says Yes during his priestly ordination, he may have some idea of what his own charism could he, hut he also knows: I have placed myself into the hands of the bishop and ultimately of the Lord. I cannot pick and choose what I want. In the end I must allow myself to be led. I had in fact the notion that being a theology professor was my charism, and I was very happy when my idea became a reality. But it was also clear to me: I am always in the Lord’s hands, and I must also be prepared for things that I do not want. In this sense it was certainly surprising suddenly to be snatched away and no longer to be able to follow my own path. But as I said, the fundamental Yes also contained the thought that I remain at the Lord’s disposal and perhaps will also have to do things someday that I myself would not like.

So I know that now I am no longer speaking for myself, but that I am simply there for the Lord—and that I don’t need to worry whether I look good, whether I am well-received, and that sort of thing. I am carrying out the task entrusted to me, in the awareness that this is being done for Another and that this Other is standing by me. This enables the trips to go ahead without a sense of fear on my part.

Yes, one often feels that. In the sense of: Now I have been able to do something that did not come from me at all. Now I entrust myself to the Lord and notice, yes, there is help there, something is being done that is not my own doing. In that sense there is absolutely an experience of the grace of office.

I simply told myself that I am who I am. I don’t try to be someone else. What I can give I give, and what I can’t give I don’t try to give, either. I don’t try to make myself into something I am not.

Other quotes from different book :

Saya harus mengatakan bahwa kita masing-masing pernah mengalami saat-saat dimana kita merasa kecil hati menghadapi semua urusan yang harus dijalankan, tetapi dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada secara kenyataannya toh urusan-urusan itu dapat diselesaikan. Sekali lagi, Paus juga menghadapi hal yang sama. Apa yang harus saya lakukan sekarang ini untuk Gereja, dengan begitu banyak masalah, kegembiraan, dan tantangan yang mencemaskan Gereja universal? Jadi, banyak hal yang terjadi, hari demi hari, yang tak dapat saya tanggapi semuanya. Saya mengerjakan bagian saya, saya melakukan semampu saya.  Saya mencoba mengidentifikasi prioritas. Dan saya bergembira karena mempunyai begitu banyak rekan kerja yang baik untuk membantu saya. Saya dapat mengatakan, disini saat ini : Setiap hari saya melihat begitu banyak pekerjaan yang dilakukan oleh Sekretariat Negara dibawah bimbingan anda yang bijaksana. Dan hanya dengan jaringan kolaborasi ini, saya menyesuaikan diri saya dan kemampuan-kemampuan saya yang terbatas ke dalam sebuah realitas yang lebih luas : mampukah dan beranikah saya melangkah maju?

Selanjutnya, saya ingin mengatakan, bahwa pertama-tama, apa yang perlu bagi kita semua adalah menyadari keterbatasan-keterbatasan kita, dengan rendah hati menyadari bahwa kita harus meletakkan banyak hal di tangan Tuhan. Hari ini, kita mendengar dalam Injil perumpamaan tentang Hamba yang Setia (bdk Mat 24:42-51). Hamba ini, seperti dikatakan Tuhan kepada kita, memberi makan kepada orang lain pada waktu yang tepat. Ia tidak melakukan segalanya sekaligus tetapi dengan bijaksana dan hati-hati tahu apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu. Ia melakukan dengan kerendahan hati dan juga yakin dengan kepercayaan tuannya. Itulah yang harus kita lakukan : melakukan semampu kita dengan bijaksana dan hati-hati dan percaya pada kebaikan dari “Tuan” kita,  Tuhan, karena pada akhirnya Dia sendirilah yang mengendalikan Gereja-Nya