The Power of Prayer

Prayer

Pada artikel sebelumnya saya membahas bahwa untuk semakin mengenal diri sendiri, maka kita perlu semakin mengenal Allah. Kita perlu memahami dan menyadari siapakah Yesus Kristus bagi kita. Dan tahap pertama untuk menjadi seorang pribadi yang katolik, adalah dengan mengenali kehendak Allah dalam hidup kita. Oleh karena itu, seorang katolik haruslah berdoa agar Ia dapat mendengarkan apa yang Allah kehendaki.

Tetapi, sebenarnya apa artinya doa? Kedua Santa memberikan jawaban, diantaranya :

“Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan” – St. Therese of Lisieux

“Doa tidak lain adalah sharing yang intim diantara teman” – St. Teresa Avilla

Nah, berdasarkan pemahaman diatas, maka sebenarnya doa merupakan sebuah komunikasi yang intim, dimana kita menyampaikan semua hal yang terjadi dalam hidup kita, seperti permohonan, harapan, kekhawatiran, syukur, sembah sujud, pengampunan, dst. Berdoa tidak hanya saat kita kesulitan, tetapi juga saat dimana kita memperoleh kegembiraan.

Berdoa itu layaknya berbicara dengan kekasih kita, seperti yang diungkapkan oleh Romo Thomas Dubay :

Doa tidaklah rumit, karena tidak ada yang lebih alami daripada bercakap-cakap dengan kekasihmnu, dan khususnya dengan Kekasihmu yang tertinggi”

Keintiman ini dapat kita lihat dalam pribadi Yesus yang berdoa, dimana dalam berbagai kesempatan Yesus selalu menyendiri dan menghindari keramaian, untuk bertemu dengan Bapa yang sangat Ia kasihi. Sebelum akan melakukan hal-hal besar, Yesus berusaha untuk menyendiri, sendiri bersama Bapa, dan masuk ke dalam keheningan dimana hanya ada Ia dan Bapa saja. Bukankah saat-saat yang intim adalah saat yang sangat berharga, dimana kita hanya ingin berduaan saja bukan?

Lalu, setelah berdoa apa yang harus kita lakukan? Padre Pio memberikan jawabannya

“Berdoalah, Berharaplah, dan jangan khawatir. Kecemasan tidak membantu sama sekali. Allah yang berbelas kasih akan mendengarkan doamu” – St. Pio Pietrelcina

Berharap dan jangan khawatir. Poin ini merupakan poin penting. Dunia tempat tinggal manusia, adalah dunia yang penuh dengan ketidakpastian akan masa depan. Satu-satunya kepastian dunia adalah dunia ini merupakan misteri, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, orang yang sering memikirkan masa depannya secara berlebihan, tentunya akan memiliki kecemasan yang berlebihan pula. Padahal Yesus berkata agar kecemasan dalam satu hari, cukuplah untuk satu hari tersebut.

Secara psikologis, doa membantu kita untuk tetap berpikir positif. Ini salah satu kekuatan doa. Doa membantu manusia untuk tetap mempertahankan pengharapan yang ada padanya. Tentunya pengharapan manusia ini memerlukan jawaban dari Allah. Dan Allah memiliki tiga jawaban terhadap harapan dan doa manusia :

  • Allah menjawab YA. Hal ini menunjukkan bahwa Ia segera mengabulkan permohonan kita.
  • Allah menjawab TIDAK. Ia bukannya tidak menjawab doa dan permohonan kita, melainkan jawaban Allah adalah TIDAK. Karena Allah tahu apa yang terbaik bagi manusia, dan manusia tentu saja tanpa ia sadari dapat meminta hal yang kurang baik di mata Allah.
  • Allah menjawab TUNGGU. Ia meminta kita untuk bersabar, karena Ia tahu kapan waktu yang tepat untuk menjawab doa kita. Selain itu, Allah bisa jadi ingin melihat apakah kita tetap bertekun dalam doa, dan setia kepada-Nya. Contoh jawaban doa seperti ini ada pada St. Monica, yang berdoa bertahun-tahun (hampir 20 tahun lebih ia berdoa!) agar anaknya, St. Augustinus, dan suaminya, bertobat dan menjadi katolik.

Persoalannya, adalah bila Allah berkata TIDAK. Apakah ini berarti Allah tidak baik? Allah tidak memperhatikan kita karena tidak mengabulkan dan menjawab doa kita? Kalau permohonan kita tidak dijawab, atau terjadi hal yang tidak sesuai harapan kita setelah berdoa, untuk apa manusia berdoa? St Thomas Aquinas memberikan jawaban yang indah untuk pertanyaan tersebut :

Kita perlu berdoa kepada Allah, bukan untuk membuat Ia mengetahui kebutuhan atau keinginan kita, namun supaya kita sendiri diingatkan akan perlunya meminta bantuan pada pertolongan Allah dalam hal-hal ini…Motif kita dalam berdoa bukan supaya kita boleh mengubah disposisi Ilahi, tapi agar, melalui doa-doa kita, kita bisa memperoleh apa yang Allah telah tetapkan [i.e. “Terjadilah kehendak-Mu”]…Allah menganugerahkan banyak hal pada kita dari kebebasan-Nya, bahkan tanpa kita memintanya : Tapi Ia menghendaki untuk menganugerahkan hal-hal tertentu kepada kita pada permintaan kita, adalah untuk demi kebaikan kita, yaitu, agar kita memperoleh keyakinan dalam meminta bantuan kepada Allah, dan supaya kita bisa mengenali didalam Dia, Pencipta kebutuhan kita (Summa theologiae, II-II, q. 83, a. 2 ad 1-3)

St. Thomas Aquinas memberikan jawaban yang jelas : berdoa BUKAN BERARTI kita mengubah rencana Allah agar sesuai keinginan kita, melainkan berdoa berarti MENYESUAIKAN KEINGINAN KITA DENGAN APA YANG ALLAH RENCANAKAN dan tetapkan bagi kita.

Doa memberikan manusia sebuah kesadaran akan tujuan, akan makna hidup manusia di dunia ini. Manusia, tentu ingin mencapai impian dan cita-citanya. Dan sebagai orang katolik, kita tentunya menginginkan agar impian dan cita-cita kita ini sejalan dengan kehendak Allah bagi kita. Oleh karena itu, salah satu sikap dalam membangun kehidupan doa yang baik adalah mendengarkan. Seperti yang dikatakan oleh Venerable Fulton Sheen :

“Doa mulai dengan berbicara kepada Allah, tapi berakhir dengan mendengarkan”

“Ketika kau berdoa, jangan berbicara terus menerus, dengarkan! Jika kita terus mengetuk-ngetuk dengan palu kita, bagaimana Arsitek Ilahi dapat memberitahu kita bagaimana kita harus membangun?”

“Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”. Perkataan Bunda Maria adalah sikap dasar seorang katolik yang mau mendengarkan, mau menerima apa yang menjadi kehendak Allah, walaupun terkadang bertentangan dengan kehendak manusia.

Yesus berkata “Bukan kehendakku…melainkan kehendak-Mu yang terjadi”. Kita ingat bahwa doa Yesus kepada Bapa ini diucapkan sebelum Yesus akan menjalani kisah sengsara, sebelum Ia menempuh jalan salib. Kita juga sama seperti Yesus, kita juga memiliki kesulitan kita sendiri, kita memikul salib kita masing-masing, dan ada kalanya kita tidak menginginkan salib tersebut. Kodrat manusia kita yang rapuh, lebih menginginkan agar kita mengganti, bahkan membuang salib yang kita pikul. Namun sikap yang dimiliki Maria dan Yesus, yaitu mendengarkan, menerima dan menaati kehendak Bapa, merupakan kekuatan yang memampukan Yesus menderita sampai akhir di Salib. Sikap yang tumbuh dari kehidupan doa yang mendalam, memberikan kita kekuatan untuk tetap bertahan dan setia dalam penderitaan, serta semakin menguatkan kita dalam menjalankan kehendak Allah, seperti yang dikatakan oleh St. Teresa Avila.

“Betapa sering saya gagal dalam menjalankan kewajiban kepada Allah, hal ini terjadi karena saya tidak bersandar pada pilar doa yang kokoh” – St. Teresa Avilla

Pada akhirnya, kehidupan doa yang dibangun dengan baik, dapat membuat manusia menjadi manusia yang seutuhnya, menjadi manusia yang lebih sehat secara psikologis, karena doa membantu manusia untuk bertahan ditengah kesulitan hidup dengan pengharapan yang ada padanya, membantu manusia menerima kehendak Allah, mengurangi kekhawatiran akan masa depan seraya mempercayakannya pada Penyelenggaraan Ilahi, dan menjalaninya dengan penuh ketaatan dan cinta.

Pada tulisan selanjutnya saya akan membahas tentang misteri salib dan penderitaan, serta mengapa keduanya merupakan hal yang hakiki bagi pembentukan pribadi yang katolik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s