The Power of Prayer

Prayer

Pada artikel sebelumnya saya membahas bahwa untuk semakin mengenal diri sendiri, maka kita perlu semakin mengenal Allah. Kita perlu memahami dan menyadari siapakah Yesus Kristus bagi kita. Dan tahap pertama untuk menjadi seorang pribadi yang katolik, adalah dengan mengenali kehendak Allah dalam hidup kita. Oleh karena itu, seorang katolik haruslah berdoa agar Ia dapat mendengarkan apa yang Allah kehendaki.

Tetapi, sebenarnya apa artinya doa? Kedua Santa memberikan jawaban, diantaranya : Continue reading

Kerendahan Hati : Pelajaran dari Bilbo Baggins

Bilbo Baggins

Tanggal 14 Desember film The Hobbit mulai diputar di bioskop. The Hobbit awalnya merupakan sebuah novel yang ditulis oleh J.R.R Tolkien, seorang penulis novel yang juga menulis The Lord of The Rings, novel yang sangat katolik walaupun unsur kekatolikannya tidak akan bisa dilihat secara langsung.

Nah, kali ini saya akan membahas tentang tokoh utama The Hobbit, Bilbo Baggins, dan apa yang kita bisa pelajari darinya. Sebagai pengantar, akan saya buka refleksi kita dengan tulisan berkut :

 “We all, like Frodo, carry a Quest, a Task: our daily duties. They come to us, not from us. We are free only to accept or refuse our task- and, implicitly, our Taskmaster. None of us is a free creator or designer of his own life. “None of us lives to himself, and none of us dies to himself” (Rom 14:7). Either God, or fate, or meaningless chance has laid upon each of us a Task, a Quest, which we would not have chosen for ourselves.We are all Hobbits who love our Shire, or security, our creature comforts, whether these are pipeweed, mushrooms, five meals a day, and local gossip, or Starbucks coffees, recreational sex, and politics. But something, some authority not named in The Lord of the Rings (but named in theSilmarillion), has decreed that a Quest should interrupt this delightful Epicurean garden and send us on an odyssey. We are plucked out of our Hobbit holes and plunked down onto a Road.” – Peter Kreeft

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kutipan tersebut dan hubungannya dengan film The Hobbit :

  1. Kita semua memiliki perjalanan dan tugas kita sendiri : kewajiban sehari-hari kita. Mereka datang pada kita, bukan berasal dari kita. Kita hanya diberikan pilihan untuk menerima atau menolaknya, termasuk menolak Ia yang memberikan-Nya. Seperti Bilbo, ia yang pada awalnya tidak menginginkan petualangan, namun akhirnya menerimanya dengan semangat
  2. Sama seperti Bilbo, kita tentu tidak mau menempuh perjalanan dengan masa depan yang tak pasti, meninggalkan semua kenyamanan kita. Tapi ada kalanya bahwa petualangan atau perjalanan ini memang sudah direncanakan oleh-Nya, untuk mengajarkan kita sesuatu. Kita ditarik, dari tempat tinggal kita yang nyaman dan aman, menuju sebuah jalan yang tidak aman dan tidak pasti.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari petulangan ini? Berikut ini adalah makna dan tujuan yang tersembunyi dibaliknya : Continue reading

True Love : What Should We Know about It.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan… (1 Kor 13 : 4-8)

14 Februari adalah hari Valentine atau hari kasih sayang dimana manusia saling mengekspresikan cintanya melalui berbagai bentuk, entah itu coklat, puisi, mawar serta berbagai ungkapan cinta lainnya. Namun sayangnya hari kasih sayang ini tidak diikuti dengan pemahaman yang tepat akan cinta, khususnya cinta yang sejati. Bukan tidak mungkin bahwa hari Valentine dijadikan sebagai ajang untuk mengumbar nafsu seksual di berbagai belahan dunia lain. Oleh karena itulah, maka saya akan sedikit membagi insight yang saya dapatkan dari buku yang berjudul Love and Reponsibility by Karol Wojtyla. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda

Loving VS Using

Lawan dari cinta bukanlah benci, melainkan memanfaatkan. Ketika individu memanfaatkan kekasihnya sebagai objek untuk suatu tujuan yang bersifat seksual dan emosional, maka sebenarnya apa yang ia cari hanyalah kenikmatan yang diperoleh dari sebuah cinta yang semu. Inilah bahaya dari hedonisme dan utilitarianisme, dimana kenikamatan dijadikan sebagai suatu prinsip utama dalam kehidupan yang harus dicari dan dikejar. Sebuah ideologi yang bila diperiksa lebih lanjut, mengajarkan suatu perilaku untuk mencari apa yang terlihat baik, benar dan indah, bukan mencari apa yang sungguh baik, benar dan indah. Suatu ideologi yang merendahkan martabat seorang manusia.

Berbicara tentang cinta selalu identik dengan perasaan. Apa yang kita rasakan awalnya berasal dari indra serta persepsi kita terhadap diri seseorang, yang kemudian diproses secara kognitif dan melibatkan emosi. Tapi cinta sejati bukan sekedar perasan. Perasaan, seberapapun besar atau kuatnya, sama sekali bukanlah ukuran dari cinta yang sejati. Jadi apa itu cinta sejati? Mari kita mengeksplorasi lebih lanjut tentang ini. Continue reading

Mengenal Allah, Mengenal diri Sendiri

Pengantar

Tulisan ini saya beri judul Mengenal Allah, Mengenal Diri Sendiri. Dengan mengenal Allah, diharapkan kita menjadi sadar seperti apa diri kita sekarang, dan semoga kita semakin menyadari bahwa kita dipanggil untuk menjadi sempurna, seperti Bapa yang adalah sempurna. Dan Bapa telah memberikan kita contoh yang sempurna, dengan mengutus putra-Nya ke dunia, yaitu Yesus.

=====================================

Sebaiknya saya menjadi pribadi yang seperti apa? Pertanyaan seperti ini mungkin pernah terlintas di dalam benak anda. Tulisan saya berikut ini adalah hasil refleksi saya terhadap pertanyaan tersebut.

Dalam psikologi kepribadian, aliran humanistik Carl Rogers, ada yang namanya real self (diri yang nyata) dan ideal self (diri yang diharapkan). Seringkali perbedaan atau jarak yang besar antara real self dan ideal self ini dapat membuat orang stres, memiliki gambaran yang buruk terhadap dirinya karena diri yang nyatga tidak mampu menjadi ideal self seperti yang diharapkan orang lain (orang tua, teman, dst) dengan segala tuntutan dan harapan mereka.

Nah, sebagai seorang katolik, apa yang harus kita lakukan? Continue reading

Bagaimana Sebaiknya Kamu Memulai Hubungan dengan Orang yang Kamu Cintai?

Dicopy/paste dari Lux Veritatis 7

Katakan kamu sedang menjalani pendidikan di SMA, dan kamu bertemu dengan seseorang yang kamu yakin kamu dapat mencintai dia selamanya sampai ke jenjang pernikahan, tetapi pernikahan masih lama, kita asumsikan satu dekade dari sekarang. Dalam jangka waktu sepuluh tahun kedepan, hubungan apa yang ingin kamu jalin kedepannya? Hubungan cinta monyet yang semu atau sebuah persahabatan yang kokoh? Persahabatan sangat mudah dijaga dan dirawat terlebih juga dapat menjadi fondasi atas sebuah cinta yang akan muncul sewaktu-waktu. Terlepas dari hal itu, apa tujuan membuat komitmen dengan seseorang yang nantinya kamu juga dapat memprediksikan bahwa hubungan ini juga akan dapat putus sewaktu-waktu dalam jangka waktu dua tahun masa kuliah?

Yang banyak orang tidak sadari adalah, kamu tidak perlu berpacaran di masa SMA untuk mengenal lawan jenis yang kamu sukai. Jangan khawatir kalau kamu belum mendapat pasangan, tetapi tidak perlu terburu-buru menjalin hubungan anggap saja ini adalah waktu dimana kamu terbebas dari gangguan dan memiliki waktu lebih untuk mencari tahu apa yang Tuhan inginkan terhadap kehidupanmu. Continue reading

Keputusasaan dan Iman

oleh : Felix Lengkong, Ph.D*

“Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan”

Dalam sebuah diskusi baru-baru ini seorang romo pembimbing para frater (calon pastur) di Manado berkata :”Putus asa kadang melekat dengan kehidupan kita dan kita terlibat di dalamnya”

“Secara tidak sengaja,” ia melanjutkan, “saya membuka tulisan tentang putus asa dalam Ensiklopedi Gereja.” Disitu tertulis, “Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan. Cukup banyak orang beriman merasa tidak dikasihani Allah, karena kurang beruntung dibandingkan orang lain. Maka, mereka menjauhi Allah. Sikap seperti ini berbahaya untuk iman.”

Antara Psikologi/Psikoterapi dan Teologi/Religiositas Continue reading